23 Februari 2013

Gereja Yang Betumbuh

Gereja Yang Betumbuh
Written by Multimedia Graha Bethany   
Friday, 22 February 2013 16:50

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra


Sejalan dengan majunya jaman, maka gereja harus mengalami pertumbuhan. Dan pertumbuhan gereja ini tidak hanya kwantitas tetapi juga kwalitas. Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh gereja yang bertumbuh, yaitu :

1. Koinonia  (Kumpulan orang-orang yang mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah).

Kita telah dipanggil dan dipilih oleh Allah untuk dijadikan umat yang kudus dan melakukan perkara-perkara yang besar. Oleh sebab itu kita harus mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah, karena Allah akan mengikatkan diriNya dengan kita pula, supaya keberhasilan itu menjadi nyata (I Korintus 1:2)

Pada saat kita mengikatkan diri dengan Kristus, maka kita akan diangkat dalam satu level berkat tertentu. Apa yang dimaksudkan mengikatkan diri dengan Tuhan ? Yang dimaksud mengikatkan diri dengan Tuhan adalah memiliki hubungan yang intim dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Contohnya : Ketika orang Israel dibawa keluar dari Mesir dan melawati padang pasir, maka mau atau tidak mau mereka harus mengikatkan diri dengan Allah karena di padang pasir tidak ada makanan dan minuman seperti di Mesir. Perjalanan dari Mesir menuju Kanaan sebenarnya tidak lebih dari 20 hari, tetapi mengapa sampai 40 tahun lamanya sehingga dalam perjalanan banyak yang mati ?.

Dibalik perjalanan yang cukup panjang ini Tuhan mempunyai maksud yang indah, yaitu supaya orang Israel saat dipimpin keluar dari tanah Mesir menuju ke Kanaan mendapat pelajaran dari Tuhan untuk bisa memelihara perasaan, pikiran dan kehendak Tuhan.
Demikianlah kehidupan kita, mungkin saat ini kita sedang bergantung pada lingkungan kita, misalnya bergantung pada kekayaan orang tua, bergantung pada pekerjaan yang bagus atau bergantung dengan hal yang lainnya. Tetapi perlu kita ingat bahwa kita adalah orang-orang yang eklesia yaitu orang-orang yang dipanggil dari dunia ini untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan Yesus Kristus. Karena kalau kita menggunakan pikiran, kehendak dan perasaan kita sendiri maka kita akan tersesat di padang pasir. Karena dunia ini sebenarnya adalah padang pasir.

Bentuk nyata pimpinan Tuhan terhadap bangsa Israel yaitu Musa telah diperintahkan Tuhan untuk membuat Tabernakel (Bilangan 9:15). Dan kemah suci pada zaman Musa hanya ada satu, sedangkan umat yang mengikuti Musa kurang lebih tiga juta orang. Pada saat mereka beribadah, para imam-imam melayani mulai dari mezbah bakaran, kolam basuhan, pelita emas dan roti pertunjukan. Mereka masuk ke halaman dan mereka percaya akan penebusan dosa dalam wujud kolam basuhan (baptisan). Lalu mereka masuk dalam ruang suci, yang pertama  terdapat mezbah dupa (perasaan Tuhan), lalu meja roti pertunjukan (pikiran Kristus), lalu pelita emas (kehendak Tuhan). Kemudian imam itu menghadap tirai yang tebal sampai mendengar firman Tuhan dari ruang maha suci. Setelah para imam itu mendengar firman Tuhan maka mereka keluar dan menyampaikannya kepada jemaat.

Demikianlah dalam kehidupan kita, kalau kita benar-benar mengikatkan diri dengan Tuhan dan mau dipimpin oleh Tuhan, maka kita akan sampai pada tujuan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu hidup dalam kesuksesan, kebahagian dan kedamaian. Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendukakan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri. Karena pada waktu kita menghormati Roh Kudus maka urapan Allah itu akan turun atas kita. Tetapi acapkali kita sering menyinggung perasaanNya dengan cara membawa tubuh ini ke dalam dosa. Lalu bagaimana kita bisa melayani Tuhan kalau kita tidak bisa memahami perasaanNya. Jadi orang yang bisa memahami dan melayani perasaan Tuhan dapat disamakan seperti hubungan antara suami dan istri (Efesus 5:32).

2. Diakonia (Kumpulan orang-orang yang saling melayani).

Galatia 6:10 ”Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
Pelayanan diakonia itu sebenarnya membuat kita berbahagia. Memang, kalau kita menilai secara fisik maka perbuatan kita tidak untung karena sebagian apa yang kita miliki harus berkurang. Tetapi akhir dari perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan buah yang luar biasa. Sebab, apa yang kita tabur tidak akan sia-sia tetapi akan menjadi berlipatkaliganda. Misalnya : seseorang mengalami sakit parah dan membutuhkan pertolongan, lalu kita mau berkorban. Maka segala perbuatan kita akan diperhitungkan oleh Tuhan (Ulangan 1:10). Allah tidak mau dipiutangi. Pelayanan diakonia di masa sekarang ini sangat langka, karena dalam kondisi yang sulit ini manusia cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri atau sekelompok orang saja. Untuk itu, selama masih ada kesempatan marilah kita berlomba untuk berbuat baik terhadap saudara kita yang lemah, karena hal itu merupakan wujud sebagian dalam mengasihi sesama.

3. Marturia (Memberitakan Injil, atau menyampaikan kabar baik).


Gereja dikatakan exist apabila semua jemaatnya menyampaikan kabar baik kepada semua umat manusia, terutama bagi mereka yang belum diselamatkan. Memberitakan Injil bukanlah tugas pendeta saja, tetapi tugas semua orang yang percaya dan yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Marturia (memberitakan Injil) bersifat wajib (Matius 28:19-20). Tetapi janganlah takut, karena apabila kita memberitakan Injil maka kita akan
diperlengkapi dengan kuasa Tuhan, karena di dalam diri kita ada sesuatu yang ilahi (Markus 16:15-17). Tetapi sebaliknya apabila kita tidak memenuhi kewajiban itu maka kita harus memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan atas nyawa orang yang belum diselamatkan (Yehezkhiel 33:6). Bukankah kita dipanggil dan dipilih tidak sekedar untuk diselamatkan tetapi kita ditetapkan sebagai pembawa kabar baik yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita, “bagaimana aku dapat memberitakan Injil sedangkan akau tidak pandai bicara ?”. Saudara, memberitakan Injil itu bukan soal pandai atau tidak pandai bicara, melainkan mau atau tidak untuk memberitakannya. Pemberitaan Injil yang konkrit adalah melalui sikap hidup kita. Apakah sikap hidup kita sudah mencerminkan pribadi Yesus. Apabila kita mengaku percaya kepada Yesus maka hidup kita wajib seperti Yesus hidup. Apa artinya kita pandai berbicara tetapi hidup kita tidak mencerminkan sebagai anak-anak Tuhan ?. Perlu kita ketahui bahwa hidup kita adalah suratan yang terbuka; setiap orang dapat membaca kebenaran melalui sikap hidup kita sehari-hari. Amin.

Sumber: http://iix.bethanygraha.org/

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification