30 Oktober 2011

Renungan Harian Online: Tahayul

Tahayul

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
Ayat bacaan: 1 Timotius 4:7
====================
"Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah."


tahayulAnda suka punya gigi ompong? Hampir pasti orang akan tertawa minimal tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tetapi hari ini teman saya bercerita bahwa anaknya malah bangga dengan gigi ompongnya. Bagaimana bisa? Itu karena dia mengatakan kepada anaknya bahwa ompong itu tanda menjadi dewasa, semata-mata agar anaknya tidak sedih ketika gigi susunya harus dicabut. Ternyata apa yang ia ajarkan itu membuat anaknya bangga. Si anak pun bercerita dengan bangga kepada teman-temannya bahwa ia sudah ompong, dan kata mamanya itu artinya ia sudah dewasa. Maka keesokan harinya datanglah salah seorang temannya yang tinggal dekat, dengan bangga pula memamerkan gigi ompongnya. Beberapa teman yang belum pun kemudian mereka tertawakan, karena dianggap masih kecil sebab giginya belum ada yang copot. Saya tertawa mendengar ceritanya, membayangkan anak-anak itu sibuk memamerkan keompongannya dan menganggap bahwa diri mereka sudah dewasa. Dan saya pun berpikir, hal yang sama dalam bentuk berbeda seringkali membuat kita tertipu. Betapa banyaknya tahayul atau kepercayaan-kepercayaan yang kita anggap benar padahal itu malah menjauhkan kita dari ajaran Allah yang sebenarnya.

Ada begitu banyak bentuk-bentuk kepercayaan turun temurun atau ajaran-ajaran yang dipercaya dunia yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Dan seringkali itu semua menyesatkan kita, membuat antara mana yang benar dan tidak menjadi kabur atau semu terlihat di mata kita. Tidak jarang diantara orang-orang yang sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya ternyata masih mempertahankan kepercayaan-kepercayaan turun temurun yang bahkan bertentangan. Dan banyak orang mengelompokkannya ke dalam adat istiadat untuk menunjukkan pemisahan antara agama dan budaya. Tidak jarang pula semua ini dikemas dalam bentuk-bentuk yang terlihat seolah ilmiah atau bahkan mirip dengan ajaran Kristus. Pertanyaannya, bagaimana jika apa yang dipercaya itu ternyata jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan? Yang jelas, Tuhan sudah mengatakan bahwa kita tidak bisa menghamba kepada dua hal yang berbeda. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Secara khusus ayat ini memang menuju kepada peringatan untuk tidak terikat kepada harta kekayaan duniawi, tetapi jika kita baca keseluruhan ayat ini, maka kita bisa melihat bahwa inti dari segalanya adalah peringatan untuk tidak menduakan Tuhan dengan apapun. Ketika Yesus dicobai iblis di padang gurun, satu sentakan keras Yesus berbunyi: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Matius 4:10).

Paulus pun mengingatkan hal yang sama. "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Ada hubungan erat antara menjauhi tahayul dan dongeng-dongeng yang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "irrevent legends (profane and impure and godless fictions, mere grandmothers' tales) and silly myths" dengan melatih diri beribadah. Beribadah bukanlah berbicara secara sempit mengenai pergi ke gereja atau berdoa saja, tetapi aspek yang lebih luas tercakup disana. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Itulah bentuk ibadah sejati, ketika kita mempersembahkan hidup kita sepenuhnya sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Sebuah ibadah yang sejati bukanlah hanya mengenai kerajinan kita rutin beribadah tiap minggu, meski itu tidak salah, tetapi lebih jauh lagi menyangkut bagaimana kita mengerti kebenaran Firman Tuhan dan mengaplikasikannya dalam setiap sendi hidup kita. Masalahnya, bagaimana mungkin kita bisa melakukan itu kalau kita masih saja kabur dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak? Dan pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita bisa membedakan itu semua jika kita tidak tahu pasti apa saja yang dikatakan Tuhan? Alkitab berisi petunjuk lengkap mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan. Disana ada perintah, larangan, peringatan, janji-janji Tuhan, apa yang harus dilakukan dan harus dihindari, ada solusi atas berbagai permasalahan dan bagaimana seharusnya kita menghadapinya. Firman itu hidup dan punya kuasa. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Kita akan luput dari semua ini apabila kita terus mengabaikan pentingnya membaca Alkitab dan membiarkan Tuhan berbicara banyak kepada kita lewat itu.

Ada hubungan antara menjauhi tahayul dengan melatih diri untuk beribadah. Kita harus tahu terlebih dahulu apa yang dikatakan Tuhan mengenai kebenaran dan melakukannya secara nyata dalam hidup kita. Itulah yang bisa membuat kita menjauhi berbagai kepercayaan atau pengajaran yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Jika kita tidak tahu, bagaimana mungkin kita menjauhkan diri? Kitapun akan terus disesatkan semakin jauh lagi dan lagi. Apalagi berbagai ajaran yang menyesatkan akan terus ada, dan Yesus sudah mengingatkan kita terlebih dahulu untuk waspada. "Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.Camkanlah, Aku sudah mengatakannya terlebih dahulu kepadamu." (Matius 24:24-25).

Berbagai tahayul ini seringkali terlihat bertujuan baik. Jika tidak, maka kita tidak akan terpengaruh olehnya. Di luar kelihatan baik, tapi di dalam menghancurkan dan membawa manusia pada kebinasaan. Pengaruh ini bukan hanya marak terjadi di jaman sekarang seperti tawaran-tawaran okultisme dan sebagainya yang bisa dengan mudah membanjiri berbagai media, tapi jauh sebelumnya sudah pula menimpa jemaat Galatia. Kita bisa melihat bagaimana Paulus pun menegur mereka. "Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus." (Galatia 1:6-7). Anak teman saya yang masih kecil beserta sahabat-sahabatnya menganggap benar bahwa mereka sudah dewasa jika bergigi ompong, namun kita tahu bahwa itu tidak benar. Seperti itu pula kita bisa tersesat jika tidak mengetahui kebenaran. Kita tidak akan pernah tahu apa yang benar dan salah jika kita tidak pernah mau meluangkan waktu untuk membaca berbagai suara Tuhan yang sudah dituliskan di dalam Alkitab. Kita harus mulai mendisplinkan diri untuk menyediakan waktu-waktu khusus untuk itu agar kita bisa membedakan dengan baik apa yang benar dan mana yang tidak, mana yang tahayul atau dongeng dan mana yang berasal dari Tuhan. Jangan biarkan Alkitab anda terus berdebu tanpa disentuh, mulailah gali kebenaran Firman Tuhan sekarang juga dan jadilah pelaku-pelakunya dalam kehidupan nyata.

Tanpa mengetahui kebenaran Firman Tuhan kita akan gampang disesatkan berbagai tahayul, dongeng atau pengajaran-pengajaran sesat

22 Oktober 2011

Renungan harian online: Roh Kudus Sang Penyambung Lidah

Roh Kudus Sang Penyambung Lidah

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
Ayat bacaan: Roma 8:26
====================
"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."


Roh Kudus Penyambung LidahMasalah bisa menyerang kapan saja dan dimana saja, bahkan bisa hadir pada saat yang tidak disangka-sangka.Reaksi akan hal itu bisa beraneka ragam. Ada yang kehilangan kontrol atas emosinya, kemudian meledak kemana-mana sehingga orang-orang di sekitar kita yang tidak bersalah menjadi korbannya, ada yang meratapi nasib tak kunjung henti, ada yang terus mengisinya dengan keluh kesah dan sebagainya. Ada kalanya pula masalah itu hadir sedemikian sulitnya sehingga membuat kita tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk berdoa pun bisa bingung, karena beban berat itu membuat kita sulit merangkainya dalam bentuk perkataan. Seperti yang kita lihat kemarin, ternyata Daud pun pernah mengalaminya. "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3).Kita tahu bahwa Tuhan sanggup, kita tahu kuasa Tuhan itu sungguh besar, namun kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya karena kita sudah tidak lagi bisa berkata-kata. Atau kita tahu Tuhan itu Maha Tahu, tapi kita merasa kurang lengkap jika kita tidak mengatakannya. Ini seringkali jadi permasalahan banyak orang, terutama yang tengah ditimbuni beberapa persoalan berat sekaligus seperti teman saya tadi. Lidah serasa kelu, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan mulai gelisah bahkan stres. Sesungguhnya Tuhan mengerti mengenai hal ini, dan Dia pun telah menyediakan solusi yang bisa membantu kita dalam menghadapi persoalan, terutama persoalan berat yang membuat kita tidak lagi bisa menyampaikannya.

Apakah ada "alat bantu" yang disediakan Tuhan untuk itu? Jawabannya ada. Tuhan tahu bahwa ada masa dimana kita tidak lagi bisa berkata-kata, maka Tuhan telah menganugerahkan Roh Kudus untuk kita lewat Kristus. Ada sosok Roh Kudus yang diberikan Tuhan sebagai Penolong seperti yang dijanjikan Yesus sendiri. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu." (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus inilah yang akan berperan sebagai Penolong atau Pembimbing dalam kehidupan kita yang sulit ini. Urusan menolong bukan cuma terbatas dari sisi membantu kita untuk membedakan mana yang baik dan buruk atau benar dan salah, tapi juga termasuk menolong kita yang mengalami kesulitan untuk menyampaikan permasalahan kita ke hadapan Allah. Sekali lagi, Tuhan tahu persis bahwa terkadang kita bisa bagai terikat lidahnya ketika tertimpa beban berat dan menjadikan kita tidak lagi tahu harus bilang apa. Disaat-saat seperti itulah kita bisa mengandalkan Roh Kudus. Roh kita dengan perantaraan Roh Kudus mampu menyampaikan itu kepada Tuhan. "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Dalam versi English AMP dikatakan "So too the [Holy] Spirit comes to our aid and bears us up in our weakness; for we do not know what prayer to offer nor how to offer it worthily as we ought, but the Spirit Himself goes to meet our supplication and pleads in our behalf with unspeakable yearnings and groanings too deep for utterance." Karunia Roh ini merupakan sebuah sarana yang ampuh untuk membantu kita dalam segala hal, terutama dalam keadaan dimana kita tidak lagi bisa berpikir jernih ketika ditimpa berbagai kesulitan. Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar senantiasa menjadi bait Allah yang kudus sehingga Roh Kudus berkenan tinggal diam di dalam kita. Firman Tuhan berkata "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19).

Roh Kudus selalu siap untuk menjadi "Penyambung lidah" kita untuk menyampaikan berbagai persoalan yang tidak lagi bisa kita katakan. Memiliki hubungan dengan Tuhan melalui Roh sungguh sangat penting. Dan semua itu telah dikaruniakan Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus, dan telah dijanjikan untuk menyertai kita untuk selama-lamanya seperti yang dinyatakan Kristus dalam Yohanes 14:16 tersebut. Inilah senjata ampuh yang akan bisa mengatasi timbunan permasalahan yang tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk terus mengucap syukur. Firman Tuhan berkata: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Semua permohonan kita baik yang terkatakan maupun tidak hendaklah disertai dengan ucapan syukur. Apakah kita dalam keadaan baik atau buruk, tetaplah biasakan diri kita untuk mengucap syukur dan tidak terjebak dalam keluh kesah berkepanjangan. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Ini bukanlah hal yang bisa dicapai dalam sekejap saja, oleh karena itu kita harus sering-sering melatih diri untuk tetap bersyukur terlepas dari apapun situasi yang tengah kita hadapi saat ini.

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah miliki iman yang percaya penuh kepada Tuhan dalam berdoa. Tanpa iman maka sia-sia pula semua doa permohonan kita. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:23-24).

Permasalahan bisa hadir dalam kehidupan kita kapanpun dan dimanapun. Ada kalanya kita kesulitan untuk dapat menyampaikannya dengan kata-kata ketika beban-beban berat itu seakan mengunci mulut kita. Dalam menghadapi situasi seperti itu, ingatlah bahwa Sang Penolong, Roh Kudus telah dikaruniakan untuk menyertai dan tinggal di dalam kita untuk selama-lamanya. Dia selalu siap untuk menjadi "Penyambung lidah" kita. Berdoalah dalam Roh, naikkanlah doa disertai ucapan syukur dan miliki iman yang percaya bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. Sesungguhnya Tuhan berkuasa lebih dari apapun, Dia tahu, mengerti dan peduli dengan keadaan kita. Apa yang diberikan dan dijanjikan Tuhan sesungguhnya sangat lengkap. Dia membantu kita dalam menyampaikan keluhan yang tidak terkatakan, Dia akan selalu membimbing dan menguatkan kita dalam menghadapi permasalahan apapun dan Dia siap untuk melepaskan kita dari itu semua. Masalah boleh sedemikian berat dan bertimbun, kita bisa merasa kesulitan untuk mengungkapkan dalam doa, namun jangan pernah lupa bahwa ada Roh Kudus ada di dalam diri anda dan selalu rindu untuk membantu kita.

Roh Kudus siap menjadi "Penyambung lidah" bagi kita yang tidak lagi sanggup berkata-kata

14 Oktober 2011

Renungan harian online: Delegasikan

Delegasikan

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."


delegasikanRentang waktu perhari sama bagi semua orang, yaitu 24 jam dengan kecepatan berjalannya waktu yang sama pula. Sementara kita yang sibuk sering mengeluhkan kurangnya waktu yang bisa dipakai untuk bekerja, beraktivitas, istirahat dan sebagainya, ada orang-orang yang mampu sukses memimpin beberapa tugas sekaligus atau berdiri di atas beberapa profesi, sembari sukses pula membina rumah tangganya. Bagaimana rahasianya mereka sanggup melakukan itu? Kita kalang kabut dan kelabakan dalam menyelesaikan tugas-tugas kita, sementara sebagian orang itu masih bisa tersenyum bahagia meski tanggung jawab yang mereka jalani jauh lebih banyak dan besar. Seringkali kuncinya terletak pada kemampuan kita memanajemen waktu. Orang-orang yang sukses menjalani beberapa profesi sekaligus dan disamping itu malah masih sanggup melayani rata-rata memberikan kunci yang sama. Kemampuan manajerial waktu tidaklah kalah pentingnya dibanding memanajemen perusahaan atau orang dalam pekerjaan kita sehari-hari. Tentu anda lebih tahu apa yang anda harus lakukan untuk itu, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan dan caranya tentu bisa berbeda-beda dalam setiap kasus, tergantung kebutuhan, kapabilitas atau kemampuan masing-masing. Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan, kita cenderung ingin menyelesaikan semuanya sendirian. Kita tidak bisa melakukan itu terus menerus dan kemudian mengabaikan tugas-tugas lainnya. Ada banyak orang yang tidak memikirkan keseimbangan dalam menjalani hari, hanya mementingkan satu hal lalu mengabaikan yang lainnya. Keluarga tidak lagi diperhatikan, anak-anak dianggap mengganggu pekerjaan dan akibatnya kita melihat ada banyak anak-anak yang kurang perhatian karena ayah juga ibunya hanya sibuk bekerja. Keluarga menjadi berantakan, jauh dari Tuhan, dan pada suatu ketika nanti situasi sudah sulit untuk diperbaiki. Padahal jika kita mau, mungkin kita bisa mencari jalan dengan mendelegasikan beberapa tugas kepada orang lain.

Mendelegasikan. Itu merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan waktu. Kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa. Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat. Membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Itu sama sekali tidak mudah. Bagi sebagian orang bisa jadi terlihat mengerikan. Dalam proses itu Musa menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada bangsa yang ia pimpin, sementara jumlah bangsa yang harus ia pimpin tidaklah kecil. Mengingat job desk yang berat itu, agaknya Musa terlalu fokus kepada penunjukan Tuhan atas dirinya, sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian dan lupa akan pentingnya sebuah struktur yang lebih efektif dalam melayani. Ia tidak terpikir untuk mendelegasikan atau menyusun struktur kepengurusan agar bisa lebih efektif dan mau menyelesaikan semuanya sendirian, all by himself. "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut. Kapan selesainya kalau seperti ini terus? Dalam ayat tersebut kita membaca bahwa Musa seharian duduk mengadili berbagai masalah yang dialami bangsa Israel yang tidak ada habisnya. Yitro, mertua Musa prihatin melihat menantunya dan tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa pun menyatakan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Dan Yitro merasa kasihan melihat menantunya harus bekerja sendirian menghadapi segalanya. "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Sungguh menarik melihat usulan Yitro agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Ini akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Ini gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Musa adalah pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).

Dalam salah satu doa Musa kemudian, ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin, dan kita pun bisa melakukan hal yang sama. Yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Itu tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal. Seperti kemarin, kita sudah melihat bahwa Paulus mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk melayani Tuhan. Delegasikan sejauh mana yang bisa anda lakukan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik. Manajemen waktu merupakan sebuah hal yang penting untuk kita lakukan jika kita mau mempergunakan waktu seefektif dan seefesien mungkin.

Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu

7 Oktober 2011

Renungan harian online: Menjadi Orang Yang Cakap

Menjadi Orang Yang Cakap

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
 Ayat bacaan: Amsal 22:29
===================
"Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina."


menjadi orang yang cakapMelihat istri memasak menjadi sebuah hiburan tersendiri buat saya. Saya melihat bagaimana ia meracik berbagai bahan untuk kemudian tampil menjadi makanan yang lezat. Tidak jarang saya membantunya dalam urusan potong memotong atau iris mengiris, lalu terkagum-kagum melihat hasil potongan atau irisan saya tampil sebagai hidangan nikmat di meja makan. Bayangkan seandainya anda memakan telur mentah, atau memasukkan garam sesendok teh langsung ke mulut, tentu rasanya tidak akan enak. Gula yang manis pun tidak akan enak anda rasa apabila anda memakannya langsung sesendok penuh. Tetapi racikan bahan-bahan dasar itu ketika diolah dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang tidak saja lezat rasanya tetapi juga bermanfaat bagi tubuh kita.

Melanjutkan renungan kemarin mengenai pentingnya untuk mencari tahu atau mengenali talenta-talenta yang sudah disediakan Tuhan dalam hidup kita, hari ini saya ingin mengajak anda untuk menyadari bahwa anda tidak akan bisa berbuat banyak tanpa terlebih dahulu mengolah talenta atau keahlian-keahlian khusus yang telah Dia anugerahkan dalam hidup anda. Talenta seringkali bagaikan "raw material" alias bahan mentah yang perlu terlebih dahulu diasah untuk bisa menciptakan sebuah potensi luar biasa untuk keluar dari diri anda. Jika anda tidak tahu apa yang ada pada diri anda, bagaimana anda bisa mengasahnya? Itulah sebabnya kita perlu terlebih dahulu memeriksa dengan seksama apa sebenarnya yang telah Tuhan sediakan bagi kita, dan tentunya berdoa untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan sesungguhnya untuk kita masing-masing. Setiap orang punya panggilannya sendiri dan yang terbaik tentunya menjalani hidup segaris dengan rencana Tuhan sejak semula bagi kita. Tuhan telah menyediakan talenta-talenta tersendiri bagi kita, dan itu harus kita asah, latih atau bentuk terus agar bisa menjadi kekuatan bagi kita untuk mencapai sukses. Mengetahui, mengasah, mengembangkan dan mempergunakan potensi yang ada untuk mencapai kesuksesan dan di dalamnya memuliakan Tuhan. Itu intinya.

Tuhan tidak pernah menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang yang suka bekerja setengah-setengah. Jika anda terus mengasah potensi yang ada dalam diri anda, mengasah keterampilan, bakat atau kemampuan-kemampuan khusus dalam diri anda dan dengan sungguh-sungguh mempergunakannya, maka anda akan tampil menjadi orang-orang yang cakap di bidangnya. Itulah yang Tuhan inginkan. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang cakap di bidang masing-masing. Tuhan suka bekerja lewat kesungguhan dan keseriusan kita, bukan memanjakan kita secara instan. Itu tidak mendidik dan tidak bagus buat kita. Tuhan senang memberkati kita lewat kesungguhan atau keuletan kita dalam bekerja. Bahkan Tuhan ingin kita bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang lain lewat segala sesuatu yang kita lakukan, dimana kemuliaanNya akan tercermin terang dan jelas disana.

Salomo mengajukan sebuah kalimat penting mengenai hal ini dalam bentuk pertanyaan kepada kita. "Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina." (Amsal 22:29). Perhatikan kata "cakap". Bukan hanya sekedar bekerja saja, tetapi dilengkapi dengan kata "cakap". Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "dilligent and skillful", alias "rajin dan ahli." Itulah yang dimaksudkan lewat kata "cakap", dan itu seharusnya menjadi gambaran dari orang-orang percaya. Bukan setengah-setengah, bukan asal jadi dan bukan pula pas-pasan. Memberi yang terbaik dalam pekerjaan, usaha, atau belajar dan sebagainya, itu merupakan sebuah keharusan. Disana tercakup hal mengetahui potensi dalam diri kita, lalu mengolah, mengasah dan mempergunakannya dengan baik, untuk tujuan baik. Inilah gambaran orang-orang yang cakap, dan mereka yang cakap tentu akan berdiri di posisi tinggi dan terhormat. 

Tuhan memandang penting akan sejauh mana kita mengetahui apa yang telah Dia berikan pada kita. Tuhan menghargai usaha keras yang dilakukan secara serius dan sungguh-sungguh. Dia siap memberkati kita yang selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk terus meningkat naik lebih tinggi lagi. Ini sesuai dengan apa yang dijanjikan Tuhan pula. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia." (Ulangan 28:13). Tuhan menjanjikan keberhasilan, bukan kegagalan. Tuhan menjanjikan masa depan yang gemilang bukan yang buruk. Kita didesain sebagai kepala bukan ekor, dimaksudkan untuk terus naik dan bukan turun. Ini akan kita peroleh jika kita mau mendengarkan perintah Tuhan dan melakukannya dengan setia. Mencari tahu apa yang ada pada diri kita, bekerja secara serius dan sungguh-sungguh, itu pun merupakan bagian dari melakukan perintah Tuhan dengan setia, dan itu akan membuat kita memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dalam karir, keluarga, pelayanan atau dalam apapun yang sedang kita lakukan.

Seperti yang telah kita lihat kemarin, perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30) menggambarkan dengan jelas bahwa Tuhan telah memberikan kita keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Semua itu ia titipkan kepada kita agar kita bisa melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya, dan bukan untuk bekerja asal jadi. Semua itu merupakan bekal yang sangat besar gunanya bagi kita untuk dipergunakan demi kebaikan kita dan kemuliaan Tuhan. Dan ingatlah bahwa semua itu pada suatu ketika haruslah kita pertanggungjawabkan. Banyak tidaknya talenta yang telah Dia titipkan bukan masalah sama sekali. Berapapun yang dipercayakan Tuhan kepada kita merupakan hal yang patut kita syukuri, dan kita harus sadar pula bahwa itu semua sudah lebih dari cukup untuk membuat kita bisa berhasil dalam setiap apa yang kita kerjakan. Perhatikan rangkaian berikut ini: Tuhan ingin kita sukses, Tuhan memberikan bekal buat kita untuk itu, dan Tuhan siap memberkati pekerjaan kita. Bukankah itu merupakan sebuah kesatuan yang luar biasa indahnya? Dengan bekerja serius maka berarti kita menghargai Tuhan, sebaliknya bagaimana mungkin kita mengaku sebagai orang yang bersyukur apabila kita tidak mau serius dalam bekerja? Menjadi cakap itu artinya kita memuliakanNya, tetapi bagaimana kita mengaku mengasihi Tuhan kalau kita terlalu malas untuk mengasah dan mengolah potensi diri kita, atau bahkan tidak tahu apa yang kita miliki sama sekali?

Selanjutnya ingatlah bahwa Tuhan pun sudah menegaskan kita agar bekerja serius seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Tuhan memandang penting arti sebuah keseriusan dari diri kita. Jika kita melakukannya dengan sebaik mungkin dan memuliakan Tuhan di dalamnya, tentu Tuhan pun tidak akan sungkan-sungkan untuk memberkati kita tepat seperti apa yang Dia rindukan. Bayangkan betapa senangnya Tuhan apabila melihat anak-anakNya menjadi orang-orang yang berpengaruh dalam bidangnya masing-masing, menjadi teladan bagi pekerja lain, serta rajin, jujur dan setia dalam setiap yang dikerjakan. Orang tua kita saja akan merasa sangat bangga, apalagi Bapa kita di Surga. Cari tahu terlebih dahulu potensi apa yang kita miliki, lalu mengasah dan mengolahnya, dan pergunakan dengan baik, untuk tujuan baik. Jangan lupa pula untuk mencari tahu apa rencana Tuhan sesungguhnya atas diri kita masing-masing dan mendoakan setiap langkah agar seturut kehendak Tuhan. Ini akan membuat anda tampil sebagai orang yang dikatakan cakap, dan disanalah anda akan menggenapi posisi anda yang sesungguhnya seperti yang diinginkan Tuhan.

Perhatikanlah performance anda saat ini. Sudahkah anda memberikan yang terbaik dalam pekerjaan atau studi anda? Sudahkah anda melakukan yang terbaik bagi keluarga anda? Pedulikah anda akan kecakapan, maukah anda terus melatih diri agar menjadi lebih cakap lagi? Ketahuilah bahwa Tuhan akan selalu siap memperbesar kapasitas dari orang-orang yang cakap di bidangnya masing-masing. Keberhasilan merupakan bagian dari kehidupan anak-anak Tuhan, dan itu akan bisa dicapai apabila kita mau menghargai segala talenta yang diberikan Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempergunakannya dengan baik dalam pekerjaan kita. Ada masa depan yang indah penuh dengan keberhasilan bagi kita semua, dan itu semua akan bisa dicapai apabila kita mau mempergunakan talenta-talenta dari Tuhan yang sudah terasah dengan baik untuk kemuliaanNya.

Jadilah orang cakap yang akan menempati posisi terhormat di bidang kita masing-masing

Renungan harian online: Pola Pikir Seorang Juara

Pola Pikir Seorang Juara

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com/
Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."


pola pikir juaraDalam pertandingan olah raga, seringkali yang menentukan bukanlah faktor skill atau keahlian melainkan faktor mental. Anda bisa melihat sebuah tim sepakbola misalnya, yang mentalnya tidak siap, mereka akan terlihat kacau, acak-acakan dan tidak terpola dalam bermain meski secara kualitas sebenarnya mereka cukup mampu bermain baik. Pelatih sepak bola nasional kita pun pada suatu ketika mengakui bahwa apa yang harus ia benahi bukan hanya soal kebugaran dan skill pemain, melainkan juga harus mencakup aspek pembangunan mental dari para pemain tersebut. Pada suatu kali saya pernah bertemu dengan seorang mantan atlit nasional, ia pun mengakui bahwa apa yang kerap menghambat kemenangan berasal dari faktor mental ini. "Begitu pikiran saya mulai ragu, begitu kepercayaan diri saya mulai goyah, maka permainan saya pun menjadi kacau." katanya. Ia pun bercerita bahwa dalam banyak kesempatan ia harus membangkitkan percaya dirinya hanya dalam waktu singkat kalau tidak mau menjadi bulan-bulanan lawannya. Mental seorang juara akan berasal dari pola atau cara berpikir seorang juara. Ini harus kita miliki, karena jika tidak, jangan harap kita bisa berhasil dalam mencapai sesuatu yang besar.

Jika pepatah berkata rumput tetangga lebih hijau dari rumput di halaman sendiri, seperti itulah cara berpikir banyak orang. Mereka hanya memperhatikan kelebihan orang lain dan mengira bahwa mereka tidak akan pernah bisa sukses karena tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Mereka hanya sibuk memperhatikan kelebihan orang dan kekurangan mereka tanpa mau melihat terlebih dahulu apa yang sebenarnya mereka punya dalam diri mereka. They don't know what they possessed within. Pola pikir negatif ini secara ekstrim akan membuat orang terus mengukur dirinya jauh lebih rendah dari seharusnya, bisa membuat mereka hanya mengisi hidup dengan keluhan-keluhan bahkan mengutuki diri sendiri atau malah menuduh Tuhan yang tidak-tidak. Dan ini bukan hanya menjadi masalah dari orang-orang yang tingkat pendidikannya rendah. Seperti yang saya katakan kemarin, saya sudah bertemu dengan banyak orang yang punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi tetapi pola pikirnya sama sekali tidak mencerminkan pola pikir seorang juara. Mental mereka lemah, dan akibatnya mereka tidak tahu potensi dirinya sama sekali dan tidak kunjung mampu berdiri sendiri mencapai sukses yang seharusnya bisa mereka peroleh. Sudahkah kita menyadari bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mulai melakukan sesuatu dan menuai sukses seperti yang direncanakan Allah sejak semula? Taruhlah pendidikan memang rendah, tetapi dengan tubuh yang sehat dan masih bisa bekerja saja, bukankah itupun bisa menjadi modal buat kita untuk sukses? Di televisi seorang mantan penerjun menjadi lumpuh dari pinggang ke bawah akibat musibah ketika payungnya telat terbuka pada suatu kali ternyata tidak menyerah dengan kondisinya. Dengan kursi roda ia terus aktif bekerja dan mengingatkan para penerjun akan pengalamannya. Ia masih bisa sukses meski separuh badannya lumpuh. Sudah terlalu banyak orang yang gagal mencapai impian mereka justru karena mereka memandang diri mereka sendiri jauh lebih rendah dari pandangan Tuhan yang sebenarnya tentang diri mereka dan tidak mengetahui apa sebenarnya yang ada pada diri mereka.

Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang gagal. Tuhan tidak pernah merencanakan kita untuk memiliki mental pecundang yang mudah menyerah dan hidup tanpa semangat. Apa yang direncanakan Tuhan justru sebaliknya. Alkitab menyebutkan begini "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Perhatikanlah bahwa kita seharusnya mengerti bahwa apa yang diinginkan Tuhan bagi kita bukan cuma sekedar pemenang, tetapi dikatakan lebih dari pemenang! Dalam bahasa Inggrisnya lebih dari pemenang disebutkan dengan "More than conquerors and gain surpassing victory", lebih dari seorang penguasa dan memperoleh kemenangan melewati batas yang kita harapkan. Dari mana kita bisa memperolehnya? Ayat ini telah menyebutkan dengan jelas, lewat Kristus yang telah mengasihi kita. Through Him who loved us.

Selanjutnya mari kita lihat janji Tuhan lainnya seperti yang telah saya bahas kemarin "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun." (Ulangan 28:13) Itu yang menjadi kerinduan Allah bagi kita. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap mengalami peningkatan dan bukan penurunan. Perhatikan bahwa kata yang dipakai adalah "TUHAN AKAN", dan bukan "Tuhan bisa" atau "Tuhan mungkin, atau jika Tuhan mau". Kata "akan" disana memberi jaminan kepastian bahwa Dia menginginkan itu untuk terjadi pada anak-anakNya. Bagaimana caranya? lanjutan dari ayat di atas memberi kuncinya ", apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,  dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (ay 13-14).


Pola pikir seorang juara dan mentalitas juara ini pun disinggung oleh Paulus. "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24) Ayat ini secara khusus menunjukkan gambaran bahwa hidup ini pada hakekatnya bagaikan sebuah pertandingan. Larilah begitu rupa hingga kita bisa memenangkan perlombaan, karena tidak semua yang bertanding bisa menjadi juara. Tekad dan usaha harus sungguh-sungguh, dan pola pikir serta mental juara pun sangat diperlukan dalam hal ini. Jika para atlit olah raga jelas membutuhkan itu untuk bisa tampil sebagai pemenang, kita pun demikian pula.

Tuhan sudah memberikan talenta bagi kita untuk sukses, Tuhan sudah merencanakan segala yang indah sejak semula, Tuhan sudah membekali kita dengan kemampuan-kemampuan untuk terus belajar dan mengasah talenta yang Dia berikan, kemudian lihatlah bahwa Tuhan pun berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Isilah pikiran kita terus menerus dengan ayat ini:  "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Lihatlah bahwa untuk mencapai sebuah tingkatan "lebih dari pemenang", "to gain a surpassing victory", kita bukannya dibiarkan berjuang sendirian, tetapi Tuhan sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Bukankah semua yang telah Dia persiapkan ini sesungguhnya lengkap dan lebih dari cukup bagi kita untuk sukses? Jangan lupa pula bahwa Roh Kudus telah dianugerahkan kepada orang-orang percaya. Kehadiran Roh Kudus akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan, melebihi apa yang kita anggap sebagai batas kesanggupan kita. Bagaimana jika kita masih juga takut? Bagaimana jika tetap menganggap bahwa kita bukan siapa-siapa, bahkan tidak ada orang yang memperhatikan keberadaan kita sekalipun? Lihatlah apa jawaban Tuhan akan hal ini. "Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau"; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:8-10).

Masalah bukanlah berasal dari kurangnya Tuhan membekali kita, melainkan dari pola pikir kita yang tidak mencerminkan juara. Mental juara akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan kita. Kita tidak akan punya daya dobrak yang cukup tanpa memiliki mental seorang juara, dan ini tidak akan ada jika kita tidak memiliki pola pikir seorang juara pula. Mengapa kita harus takut, mengapa kita harus ragu, kalau Tuhan sudah memberikan segala bekal dan berjanji akan senantiasa menyertai kita? Daud  yang kecil dan masih muda bisa menang menghadapi Goliat, raksasa bersenjatakan dan beratribut perang lengkap hanya dengan ketapel dan batu. Bukan karena hebatnya, bukan karena keahliannya mempergunakan ketapel, melainkan karena penyertaan Tuhan atasnya. Daud tahu bahwa apa yang ada pada dirinya, meski sederhana sekali, itu bisa menjadi sangat luar biasa ketika Tuhan ada bersamanya. Di dalam Tuhan ada kemenangan, kita bahkan dirancangkan lebih dari orang menang. Ini saatnya bagi kita untuk mengubah pola pikir. Kita harus menaklukkan segala pola pikir negatif tentang diri kita sendiri di dalam Kristus dan kemudian memasang pola pikir kita seturut rencana Allah. Berpikirlah seperti seorang juara, dan milikilah mental juara. Dengan cara itulah anda akan mampu mengasah potensi-potensi yang ada pada diri anda dan mempergunakannya secara maksimal.

Have the spirit of a champion by thinking like a champion

6 Oktober 2011

Komal: Service learning

Service Learning
Mengenai komunikasi antara saya dan teman kelompok saya, serta pemilik tempat service learning kelompok kami, saya hanya memiliki sedikit masalah saja.
Jika mengenai anggota kelompok, saya tidak begitu ada masalah. Cuma, terkadang ada masalah komunikasi, yaitu tempat tinggal kelompok kami hampir berbeda semua, dan jika di sms oleh ketua kelompok, hanya sedikit yang membalas. Jadi sering juga kami menentukan sesuatu secara mendadak ketika bertemu di kuliah. Juga terkadang ada masalah bertemu karena perbedaan jam kelas. Sebenarnya beberapa anggota kelompok kami agak meremehkan tugas-tugasnya (seperti saya juga) dan itu cukup menghambat, karena akhirnya harus dikerjakan h-2 atau bahkan h-1.

3 Oktober 2011

Komal: Perception

Komal yang lalu membahas mengenai persepsi, di mana persepsi itu sangat mempengaruhi pandangan seseorang akan yang lainnya.
Persepsi bisa ditimbulkan dari pertemuan pertama yang salah, atau bahkan hanya dari kabar angin.

Mengenai persepsi itu sendiri aku sendiri pernah mengalaminya, yaitu ketika aku bertemu dengan seseorang di ukm ketika kuliah ini. Dia bersikap dan berkata-kata seperti menghina, akhirnya aku memiliki persepsi bahwa dia itu buruk.
Ternyata setelah melihatnya beberapa kali begitu, ternyata memang dia itu tipenya agak lebay.
Jika seperti itu sih dapat dimaklumi sikapnya, artinya dia tidak bermaksud menghina, tetapi memang kebiasaan bicaranya seperti itu.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification