26 Maret 2012

Kita Membutuhkan Tuhan

Kita Membutuhkan Tuhan
Written by Multimedia Graha Bethany      
Monday, 19 March 2012 12:07
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Sumber: http://iix.bethanygraha.org

Setiap orang yang masih tinggal di muka bumi ini, tentunya mengalami berbagai macam persoalan yang berbeda-beda, termasuk saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra). Dan selama saya mengikut Tuhan, banyak terjadi gelombang dalam kehidupan saya, tetapi saya tetap membutuhkan Dia sebagai penolong yang ajaib. Salah satu contoh : Ketika saya membangun beberapa gereja di Mojokerto, saya benar-benar membutuhkan Tuhan sehingga pembangunan itu berhasil. Namun yang perlu disayangkan adalah ketika saya berhasil dan selesai membangun gereja, saya mulai kendor dan mulai tidak membutuhkan Tuhan lagi. Dan ketika saya (Pdt. A. Alex Tanuseputra) pindah ke Surabaya, saya berada dalam kondisi nol.
Namun saat saya membangun gereja Bethany Manyar saya membutuhkan Tuhan. Dan dalam waktu 7 tahun, pembangunan gereja Bethany Manyar telah selesai. Lalu saya mulai kendor dan tidak berdoa lagi sehingga saya mengalami berbagai gelombang. Dan puji Tuhan, Allah mempercayakan saya untuk membangun Bethany Nginden. Dalam pembangunan gereja Bethany Nginden saya mengalami berbagai pergumulan, apalagi saat membangun sempat dilanda krisis moneter sehingga biaya untuk pembangunan sangat meningkat, belum termasuk tantangan dari luar. Tetapi saat itulah saat kembali membutuhkan Tuhan, sehingga pembangunan gereja Bethany Nginden selesai. Setelah pembangunan gereja Bethany Nginden selesai, maka saya mulai kendor lagi, sehingga banyak persoalan datang. Dan disitulah Allah mempercayakan saya untuk membangun Menara Doa Jakarta. Dalam kondisi perekonomian seperti ini untuk Menara Doa dengan dana triliunan itu sangat mustahil, tetapi saya percaya ketika kita membutuhkan Tuhan maka tidak ada sesuatu yang mustahil, sebab Dia adalah Allah yang luar biasa. Begitu pula ketika saya sakit, saya sangat membutuhkan Tuhan sebab saya sadar tanpa Tuhan, maka saya tidak dapat berbuat apa-apa.

Dari serentetan kisah perjalanan hidup saya di atas intinya adalah bahwa kita harus senantiasa membutuhkan Tuhan dalam berbagai keadaan; baik dalam keadaan sukses maupun saat mengalami pergumulan, karena itu merupakan kerinduan Tuhan agar umatNya membutuhkan Dia. Dan oleh kemurahan Tuhan sehingga sampai saat ini saya masih melayani Tuhan.

Ada beberapa ciri yang membuktikan bahwa seseorang itu membutuhkan Tuhan :


1. Berdoa

Dalam Roma 8:16-17, disebutkan bahwa Roh itu bersaksi dengan roh kita pada waktu kita berdoa. Untuk itu apabila kita membutuhkan Tuhan maka kita harus berdoa, agar kita menerima janji Tuhan sebagai ahli waris. Sedangkan bagi orang yang berada di luar Tuhan tidak ada jaminan atas segala doa yang sudah dipanjatkan, karena mereka bukan ahli waris kerajaan Allah. Dan ketika kita berdoa, saya (Pdt. A. Alex T.) senantiasa mengajak jemaat berdoa dalam bahasa roh. Ada alasan yang mendasar mengapa saya mengajak berdoa dengan bahasa roh. Hal ini dapat kita lihat dalam I Korintus 14:2 ”Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”  Jadi orang yang berbahasa roh itu sedang berkata-kata dengan Tuhan, dan hal ini bisa dilakukan di setiap waktu.
Orang yang berdoa dengan bahasa roh maka orang tersebut membangun dirinya sendiri dalam pengertian bahwa dia sangat membutuhkan Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan adalah Imanuel, dan jemaat yang membutuhkan Tuhan, pasti jemaat tersebut suka berdoa. Dan apabila kita berdoa maka Tuhan akan memenuhi segala apa yang menjadi kebutuhkan kita.
Saudara, ketika kita tunduk kepala dan berdoa, maka kita sedang masuk alam roh dan Roh Kudus akan membantu kita dalam segala keluhan kita yang tidak terucapkan (Roma 8:26). Oleh karena itu mariah kita merubah kehidupan kita supaya suka berdoa.

2. Membaca Firman Tuhan

Dalam Injil Yohanes 15:7 menjelaskan bahwa orang yang tinggal dalam Tuhan dan Tuhan tinggal di dalam dia maka apa saja yang mereka minta, Tuhan akan genapi. Jadi kita tidak cukup berdoa saja tetapi firmanNya harus tinggal dalam kita melalui pembacaan firman Tuhan; dan terlebih itu kita tinggal dalam kebenaran firman Tuhan. Dalam ayat lain juga disebutkan : ”Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”
Selain itu, ketika kita membaca firman Tuhan maka disitulah kita mengerti dan memiliki pikiran Kristus, yaitu pikiran yang tidak terselami oleh pikiran manusia karena pikiran itu di luar logika manusia; misalnya :  lima roti di tambah dua ekor ikan telah sanggup memberi makan lima rimu orang, orang buta sejak lahir bisa melek, dan juga kisah tentang Lazarus, meskipun ia sudah meninggal 4 hari tetapi  dapat dibangkitkan kembali oleh Yesus. Kalau kita membaca firman Tuhan maka akan muncul visual (gambaran) dan Roh yang ada dalam diri kita akan bekerja, sehingga apa yang kita bayangkan akan terwujud asalkan kita tidak meninggalkan iman, karena kita harus terus bertumbuh dalam pengharapan. Terlebih itu, hidup kita harus ada muatan kasih, karena hidup kita akan terarah sesuai dengan kehendakNya.

3. Melayani Tuhan

Orang yang membutuhkan Tuhan tentunya juga melayani Tuhan Roma 12:1 berkata, ” . . . supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”  Jadi apabila kita membutuhkan Tuhan maka kita harus aktif melayani untuk memenangkan jiwa. Namun bukan berarti kita tidak bekerja; karena yang dimaksud disini adalah selain kita bekerja kita juga harus melayani Tuhan sesuai dengan talenta yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita. Dan perlu kita ketahui bahwa berkat Tuhan itu akan kita terima apabila kita membutuhkan Tuhan.

Saudara, apabila kita membaca di dalam Mazmur 63:2, maka kita temukan kehidupan raja Daud mengalami seperti yang kita alami. Dari kecil ia membutuhkan Tuhan sebab ia sering menghadapi bahaya. Ketika ia menggembalakan domba, ia harus berhadapan dengan singa, beruang, tetapi semuanya dapat dikalahkan. Di dalam diri Daud ada kekuatan ilahi. Dan pada waktu ia sukses, orang lain mulai iri hati kepadanya yaitu Saul. Tetapi Daud tetap membutuhkan Tuhan, dan ia semakin sungguh-sungguh mendekat dengan Tuhan dan memegang janji Tuhan sampai ia menjadi raja. Dan ketika ia menjadi raja, maka mengalami banyak kemenangan demi kemenangan.
Tetapi suatu saat ia tidak pergi berperang melainkan menikmati segala keberhasilannya, sedangkan seluruh pasukannya bertempur, akhirnya ia jatuh dalam dosa ketika melihat Batsyeba sedang mandi. Kemudian ia bertobat dan dipulihkan lagi kehidupannya oleh Tuhan. Namun pada akhirnya ia jatuh kembali dalam dosa ketika ia mulai menghitung jumlah pasukannya. Jadi intinya bahwa setiap umat pilihan Tuhan harus senantiasa membutuhkan Tuhan. Oleh sebab itu biarlah roh, jiwa dan tubuh kita dapat dibuktikan bahwa kita sangat membutuhkan Tuhan. Amin.

18 Maret 2012

Kodrat Ilahi

Sumber: iix.bethanygraha.org
Setiap orang Kristen yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamat, lahir baru dan sudah dibaptis, harus menyadari bahwa di dalam dirinya ada kekuatan ilahi atau kondrat ilahi. Dan hal ini telah ditegaskan oleh rasul Paulus melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, yang bunyinya : ”Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Roh Kudus” (I Korintus 3:16; I Korintus 6:19). Untuk itu kita patut bangga dan mengucap syukur senantiasa karena Roh Allah telah manunggal dalam kehidupan kita. Bahkan raja Daud berkata : “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:13).
Ayat ini menunjukkan bahwa betapa berharganya Roh Allah itu, karena Roh Allah merupakan sumber dari segalanya. Dan dalam ayat ini telah tersirat bahwa Daud rela kehilangan segala apa yang dia miliki asalkan Roh Tuhan tidak diambil daripadanya; hal ini terlihat dari apa yang difokuskan oleh Daud yaitu Roh Tuhan, dan bukan kerajaan atau kekayaan maupun yang lainnya. Dan apabila kita menengok kebelakang mengenai pekerjaan Roh Kudus khususnya pada masa penciptaan dunia, maka kita akan kagum akan kedahsyatannya, dimana saat itu Roh Kudus ada di permukaan air waktu penciptaan bumi ini karena bumi ini sedang kacau balau dan iblis dicampakkan ke bumi. Bumi menjadi campur baur dan rusak.
Sepertiga malaikat Tuhan mengikuti iblis. Tetapi Tuhan memperbaiki bumi ini. Roh Allah ada di permukaan air, lalu Allah berfirman untuk menciptakan bumi ini. Memang pada waktu itu seperti zaman penciptaan, sebenarnya penciptaan kembali, karena sebelumnya ada suatu zaman. Dunia diperbaiki dengan firman Allah, karena bumi telah dirusak oleh iblis. Dan saat itu jadilah yang diciptakan oleh Allah. Ini terjadi karena ada Roh Kudus dan firman Allah. Dan sekarang Roh Kudus ada di permukaan air, yaitu tubuh ini, karena tubuh manusia terdiri dari 80% air, yaitu darah/jiwa ini. Roh Allah merupakan satu kodrat ilahi yang hendak berkarya secara luar biasa. Dan ini baru bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita mendengar firman Allah dan melakukannya.
Saudara, melalui sedikit ulasan diatas membuktikan bahwa Roh Kudus adalah harta atau kodrat ilahi yang akan berfungsi dan berkarya di dalam hidup kita. Dan ayat bacaan diatas menjadi landasan bagi pemahaman kita terhadap berfungsinya maupun berkaryanya kodrat ilahi yang ada di dalam kehidupan kita. Kodrat ilahi akan berfungsi apabila kita melakukan firman Tuhan (Matius 7:24-25), dan begitu sebaliknya, bahwa kodrat ilahi itu tidak berfungsi apabila kita tidak melakukan kehendak Tuhan (Matius 7:26-27). Selain itu, perlu kita ketahui pula bahwa kita mendapatkan kodrat ilahi semata-mata oleh karena kasih dan anugerahNya; seperti yang tertulis dalam 2 Petrus 1:3-4 : ”Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.”
Sedangkan pada ayat selanjutnya (2 Petrus 1:5-10); apabila dikolaborasikan dengan ayat bacaan diatas maka kita akan menemukan nilai kebenaran yaitu bahwa saat kita membangun rumah harus dimulai dengan iman, lalu kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang.
Untuk lebih detailnya, mari kita bahas satu persatu mengenai syarat dalam membangun rumah (rumah rohani). Yang pertama yaitu dengan iman. Dimana iman itu ada atau timbul dalam kehidupan kita apabila kita senantiasa mendengarkan firman Tuhan, seperti yang tertulis dalam Roma 10:17 berkata : “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Sebab firman Allah telah diwujudkan melalui peristiwa kehidupan seseorang, seperti Musa, Daud dan lainnya. Di dalam firman Tuhan banyak dicatat tentang mujizat yang Tuhan lakukan, baik itu dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Semua itu adalah kodrat ilahi dan bukan oleh kekuatan manusia.
Kalau kita membaca firman Allah, maka pekerjaan Roh Kudus yang dicatat dalam Alkitab dapat terjadi dalam kehidupan kita pula, khususnya sebagai orang yang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dan Firman Allah tidak boleh hanya sebagai kepercayaan/iman saja, tetapi harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2: 17-22). Perbuatan yang didalamnya terkandung kebajikan ini tidak tidak hanya dilakukan oleh seorang imam atau nabi saja, tetapi semua umat Tuhan harus melakukannya. Seperti halnya Yunus yang bertobat dan melakukan perintah Tuhan. Setelah melakukan firman Allah maka kodrat ilahi yang ada dalam dirinya bekerja secara luar biasa, dimana melalui pemberitaannya maka satu kota (Niniwe) bertobat.

Saudara, ketika kodrat ilahi berfungsi dalam hidup kita, dan berjalan seiring dengan waktu yang di dalamnya diwarnai dengan berbagai macam pencobaan demi pencobaan, maka dari situlah akan timbul pengalaman/pengetahuan, yang pada akhirnya akan membawa kita hidup dengan penguasaan diri; misalnya saat kita menghadapi persoalan maka kita tidak panik lagi. Sebagai contoh yang nyata adalah kisah daripada rasul Paulus; dimana telah diungkapkan melalui suratnya yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, bunyinya : “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Korintus 4:8-10).
Selain penguasaan diri, dalam diri kita dituntut pula adanya ketekunan, karena tanpa ketekunan maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Sebagai gambaran adalah seorang petani. Mereka tidak akan panen apabila tidak sabar atau tekun dalam merawat dan menantikan tanaman yang ia tanam, karena segala sesuatu ada waktunya. Firman Tuhan berkata : “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya” (II Timotius 2:6). Dan besar kecilnya panen mereka tidak lepas dari hukum tabur tuai, yaitu “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (II Korintus 9:6). Dan selanjutnya adalah : bagi orang yang bertekun di dalam Tuhan maka orang itu akan hidup dalam kesalehan; yang pada akhirnya kodrat ilahi yang ada di dalam dirinya akan senantiasa memelihara orang tersebut baik di dalam dunia maupun sampai pada hidup yang kekal.
Oleh karena itu, janganlah kita sia-siakan kesempatan yang ada. Biarlah kodrat ilahi yang telah dianugerahkan dalam kehidupan ini, senantiasa berfungsi untuk melakukan pekerjaan yang besar. Karena pondasi ini sebenarnya tercakup dalam iman, harap dan kasih. Amin.

12 Maret 2012

Sumber kekuatan

Sumber Kekuatan

Sumber: http://akucintayesus.com/
Mazmur 28:7

“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”
Pernahkah anda merasakan bahwa usaha keras yang anda lakukan sepertinya tidak membawa hasil seperti yang anda harapkan? Pernahkah anda merasakan bahwa meski anda sudah mati-matian berbuat sesuatu seperti dalam pekerjaan atau belajar misalnya, tetapi semua terasa sia-sia? Ada masa-masa dimana kita bisa merasakan hal seperti itu. Saat ini saya sedang merasakannya. Segenap tenaga, pikiran dan usaha sudah saya kerahkan, namun hasilnya tidak juga sepadan dengan pengorbanan saya. Ibarat menanam benih di dalam sebuah pot tetapi tunas tidak kunjung tumbuh keluar dari tanah. Hari ini saya terpaksa tidak tidur karena pekerjaan baru saja selesai sementara pagi-pagi benar sudah ada pekerjaan lain yang menanti. Terlalu tanggung untuk tidur, bisa-bisa saya tidak terbangun pada saatnya. Waktu yang sedikit ini sedang saya pakai untuk menulis sebuah renungan yang berasal dari apa yang saya pikirkan saat ini. Secara kasat mata hasil belum terlihat, tetapi iman saya menolak untuk menyerah atau kecewa. It’s just a matter of time, I believe on that. Kalaupun tidak ada hasilnya, yang penting saya sudah melakukan yang terbaik, seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Sebuah penantian memang terkadang terasa melelahkan. Itu bisa lebih melelahkan ketimbang capai fisik. Apakah saya harus bersedih, bimbang dan ragu? Hidup adalah pilihan, dan saya memilih untuk tidak seperti itu. Saya percaya Tuhan tahu keseriusan dan kesungguhan saya, Dia yang menguji hati tentu akan tahu bagaimana ketulusan saya melakukan segala sesuatu, karenanya saya tidak perlu meragukan Tuhan. Ketika badan saya terasa lelah seperti saat ini dan rasanya rindu merasakan empuknya kasur, saya masih bisa merasakan sukacita. Jika mengandalkan kekuatan sendiri mungkin saya sudah menyerah sejak lama, tetapi kekuatan dari Tuhan membuat saya mampu terus bertahan, terus melakukan yang terbaik tanpa kehilangan sukacita dan rasa syukur setitikpun.
Firman Tuhan hari ini semakin meneguhkan batin saya. Dengarlah apa kata Firman Tuhan yang bagi saya terasa seperti sebuah pelukan hangat dari Tuhan disertai pesan bahwa Dia mendengar dan merasakan apa yang saya rasakan. Sebuah petikan Mazmur dari Daud yang ditulis dengan sangat indah, berbunyi: “TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” (Mazmur 28:7). The Lord is my Strength and my Shield. Bukan diri saya, bukan usaha saya, bukan kepandaian ataupun kemampuan saya, tetapi sumber kekuatan itu datangnya adalah dari Tuhan. Dialah sumber kekuatan dan sumber perlindungan. Dia selalu menolong dan menggirangkan hati kita, dan karena itu dalam kondisi apapun tidak ada satupun alasan bagi saya untuk tidak bersukacita dan memuji Dia dengan penuh ungkapan syukur. Saya percaya Dia akan selalu ada bersama saya, menguatkan, meneguhkan dan membimbing setiap langkah. Dia tidak akan meninggalkan dan mengabaikan saya. Dia mengasihi saya dan tidak akan pernah menutup mataNya atau memalingkan mukaNya. Demikian pula kepada anda semua, anak-anakNya yang sama dikasihiNya. Daud melanjutkan: “TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!” (ay 8). Betapa kedua ayat ini menggambarkan dengan jelas siapa Tuhan bagi kita, terlebih dalam keadaan sulit yang tengah dihadapi.
Dalam 1 Tawarikh kita bisa mendapati kembali iman Daud yang dia ungkapkan lewat pujian. “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya.” (1 Tawarikh 16:27). Di hadapan Tuhan selalu ada keagungan dan semarak tanpa pernah habis. Kekuatan dan sukacita tak terbatas selalu ada di tempatNya. Itulah sebabnya saya bisa terus tersenyum dan tidak merasakan kekurangan sedikitpun, sebab mata hati saya terus memandang mengarah kepadaNya. Saya tidak memandang kepada masalah, kepada ketidakpastian saat ini, kepada kesulitan yang tengah ada. Itu tidak akan membawa hasil apa-apa selain semakin memperlemah iman. Memandang kepada Tuhan, terus berpegang dan percaya sepenuhnya kepadaNya, menyerahkan seluruh hidup dan usaha yang saya lakukan kedalam tanganNya, terus berjalan dalam pengharapan tanpa henti sambil terus pula berbuat yang terbaik sekuat yang saya mampu, itu akan membuat saya tidak perlu kehilangan sukacita.
FirmanNya berkata: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya..ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam..ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;” (Pengkotbah 3:1-4). Ketika kita berada pada situasi yang tidak kondusif, itu saatnya untuk memperhatikan betul kondisi hati kita, sehingga pada saatnya nanti kita bisa menuai hasil yang maksimal seperti yang Dia curahkan kepada kita. Apa yang perlu kita lakukan adalah berhenti memandang kepada masalah dan mengarahkan pandangan kepadaNya, terus berbuat yang terbaik seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, sambil terus disertai rasa syukur. Itu akan membuat api sukacita terus menyala. Itu akan membuat kita mampu merasakan kekuatan dari Tuhan meneguhkan kita. Itu akan membuat kita tetap tenang dan terus bersemangat untuk berbuat sesuatu. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya..” (2 Petrus 3:9), dan itu saya percaya penuh. Kesulitan bagi saya adalah sebuah kesempatan untuk belajar sesuatu yang baru dan menyaksikan mukjizatNya. Meski saat ini saya belum menuai sesuatu sesuai dengan usaha yang saya lakukan, saya tidak ragu sedikitpun kepada janjiNya. Saya masih tersenyum ditengah badan yang lelah, saya masih bersemangat untuk kembali bekerja sebentar lagi. Ada kekuatan Tuhan yang tidak terbatas bersama saya, ada Roh Kudus yang terus menyala mengobarkan semangat dalam hati saya, dan itu semua membuat saya masih merasakan sukacita sebesar-besarnya saat ini. Jika diantara teman-teman ada yang tengah mengalami pergumulan terhadap sesuatu, peganglah janji-janjiNya dan teruslah berjalan dalam iman. Dia tidak meninggalkan anak-anakNya, Dia tidak menutup mataNya. Dia akan selalu ada bersama kita, memperhatikan segala kebutuhan kita dan akan menyediakan semuanya berkelimpahan.
Tuhan tidak pernah lalai dan ingkar janji, Dia adalah sumber kekuatan yang penuh kasih

5 Maret 2012

Semangkok Bakmie

Semangkok Bakmie

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
milik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”
Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.
RENUNGAN:
Bagaimanapun Kita Tidak Boleh Melupakan Jasa Orang Tua kita. Seringkali kita menganggap mereka merupakan sustu proses alami yang biasa saja. Tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak lahir. Pikirkanlah hal itu !!!
Apakah kita mau menghargai pengorbanan tanpa syarat dari orang tua kita?Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification