30 April 2013

Dampak Mendapat Hikmat Dari Allah

Dampak Mendapat Hikmat Dari Allah 
Written by Multimedia Graha Bethany   
Monday, 29 April 2013 10:43
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Amsal 9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian

Orang yang takut akan Tuhan akan mendapatkan hikmat. Tetapi kebanyakan orang berpendapat bahwa orang yang telah menyelesaikan sekolahnya pada jenjang yang paling tinggi, maka orang tersebut dianggap sebagai orang yang berhikmat. Padahal sebenarnya orang yang sudah lulus sekolah belum tentu mempunyai hikmat, tetapi memiliki pengetahuan dan hal ini sudah pasti.
Tetapi hikmat itu sendiri dapat diperoleh apabila kita takut akan Tuhan dan melakukan segala perintahNya. Kalau diteliti, bahwa manusia mempunyai otak yang diciptakan oleh Tuhan yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan rasio, contohnya 2 ditambah 5 sama dengan tujuh. Sedangkan otak kanan merupakan hikmat misalnya 2 ditambah 5 sama dengan 5 ribu orang kenyang. Saudara, seandainya otak kiri diisi dengan ilmu kedokteran maka orang berpendapat bahwa orang yang sudah mati empat hari tidak bisa bangkit.
Pendapat tersebut dinyatakan benar karena sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka terima, tetapi otak kanan berpendapat berbeda. Orang yang sudah sudah mati empat hari bisa bangkit. Otak kanan berpendapat demikian atas dasar percaya kepada Tuhan Yesus. Contoh lain, yaitu orang yang buta sejak kecil apabila menurut otak kanan bisa melihat tetapi menurut otak kiri bahwa orang yang buta sejak kecil adalah takdir. Amsal 3:13-16 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas, . . . . .   Hikmat yang telah tertera diatas adalah wahyu dari Tuhan.
Orang dunia tidak pernah memikirkan wahyu, tetapi hanya skill saja. Tetapi orang yang percaya kepada Yesus maka di hidupnya ada Roh Kudus, sehingga di dalam dirinya muncul hikmat. Akibat orang yang mendapatkan hikmat akan mengalami kesuksesan yang luar biasa. Kerapkali orang merindukan hikmat Tuhan tetapi mereka tidak mendapatkan karena mereka memadamkan Roh Kudus yang ada di dalam dirinya, padahal Roh Kuduslah yang memberikan hikmat atas kita. Manusia cenderung menggunakan kepandaiannya saja daripada mengandalkan kuasa Tuhan.
Hal ini bukan berarti kita tidak boleh menggunakan akal budi kita tetapi hal yang utama kita mengandalkan hikmat dari Tuhan yang ditunjang oleh skill atau kepandaian kita. Daud termasuk orang yang IQ-nya kurang sehingga ia harus dijadikan gembala domba (Mazmur 73:22). Namun kakak-kakak Daud perawakannya tinggi besar dan IQ-nya cukup tinggi. Meskipun Daud IQ-nya rendah tetapi di dalam diri Daud ada Roh Allah yang dahsyat sehingga menjadikan diri Daud sebagai pribadi yang luar biasa. Bukti dari kekuatan Roh Allah yang ada dalam diri Daud yaitu Daud sanggup mengalahkan singa, beruang dan binatang buas lainnya. Kita tidak bisa mengukur kemampuan seseorang hanya secara lahiriah saja karena kita akan tertipu oleh penampilan seseorang.
Karena, kadang-kadang orang yang kelihatannya sederhana tetapi di dalamnya ada Roh Allah maka orang tersebut termasuk orang yang luar biasa. Kepandaian memang harus dipakai, tetapi yang terutama adalah wahyu dari Tuhan supaya setiap langkah yang kita kerjakan dalam kekuasaan Tuhan. Apabila kita hanya mengandalkan kepandaian saja, maka yang terjadi dalam diri kita adalah kegagalan bahkan kutuk akan menimpa kita, seperti yang tertulis dalam Yeremia 17:5  . . . . . terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan  . . . .    Untuk itu janganlah kita mendukakan atau memadamkan Roh Kudus, karena Roh Kuduslah yang mengerti isi hati Allah. Dan apabila Roh Kudus ada dalam diri kita maka kita tahu apa yang menjadi keinginan Allah atas hidup kita (I Korintus 2:10).   Saat kita hidup dipenuhi oleh Roh Kudus maka wahyu dari Tuhan akan turun atas kita untuk memimpin setiap langkah-langkah kita guna melakukan pekerjaan yang luar biasa.
Tetapi apabila kita sudah mendukakan atau memadamkan Roh Kudus maka langkah-langkah yang kita ambil bukan tuntunan dari Tuhan tetapi kemampuan kita sendiri yang mengakibatkan banyak kesalahan dalam mengambil keputusan. Salah satu contoh yaitu Ahitofel, ia adalah seorang nabi yang diurapi. Pada waktu Daud hendak mengambil keputusan ia mendapatkan nasehat dari Ahitofel, sehingga langkah-langkah yang diambil oleh Daud berada dalam pimpinan Tuhan dan apa yang dilakukannya selalu berhasil.
Tetapi suatu saat, Daud melakukan kesalahan yaitu mengambil istri Uria dengan jalan membunuh Uria melalui pertempuran. Waktu itu Uria ditugaskan untuk maju ke medan pertempuran dengan posisi terdepan sehingga Uria mati terbunuh dengan maksud apabila Uria mati maka Daud bisa mengambil istrinya yaitu Batsyeba. Dengan kejadian itu Ahitofel timbul kebencian terhadap Daud karena Batsyeba adalah cucu daripada Ahitofel. Karena kebencianlah Ahitofel melakukan tindakan yang salah, akhirnya bukan Roh Tuhan yang memimpin dia tetapi rasa kecewalah yang menuntun jalan Ahitofel, padahal dia adalah orang yang diurapi secara luar biasa pada awalnya. Demikianlah kita, apabila ada rasa benci, kecewa, kepahitan maka hal itu akan menghambat kita untuk mendapatkan wahyu dari Tuhan. Padahal modal manusia roh adalah : Wahyu Tuhan, mendapat nubuatan, dipimpin Roh Kudus, berjalan dalam iman, berdoa dalam roh. Amin

Sumber: http://iix.bethanygraha.org/

21 April 2013

Bertumbuh Menuju Kedewasaan

Bertumbuh Menuju Kedewasaan
Written by Multimedia Graha Bethany   
Friday, 19 April 2013 13:12
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
"...selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya...” (Galatia 4:1-2).
Dalam mencapai suatu kedewasaan tidak datang dengan sendirinya namun melalui sebuah proses pertumbuhan. Dan masing-masing pertumbahan tidak selalu sama. Ada yang mengalami pertumbuhan secara cepat dan ada pula yang betumbuh secara lambat.

Dan pertumbuhan itu sendiri diawali dari kelahiran. Tanpa ada kelahiran maka selamanya tidak ada apa yang disebut dengan pertumbuhan. Demikian dalam Kekristenan, tanpa ada kelahiran baru maka tidak mungkin seseorang dapat mengalami pertumbuhan dalam kerohaniannya, apalagi mencapai kedewasaan; hal ini benar-benar tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan kita, apakah diantara kita ada yang tidak mengalami pertumbuhan guna mencapai kedewasaan, walaupun sudah menyandang predikat sebagai orang Kristen selama puluhan tahun ? atau jangan-jangan kita belum lahir baru ? untuk dapat menjawab pertanyaan ini marilah kita koreksi diri kita masing-masing, selagi Tuhan memberi kesempatan untuk berbenah diri. Sebab firman Tuhan berkata : ”selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya.” (Galatia 4:1-2).

Pada ayat bacaan di atas, terdapat kata “akil balig.” (artinya : dewasa). Seseorang yang belum dewasa belum pantas menerima warisan. Tetapi setelah akil balig, hak ahli waris dapat diterimanya. Mengapa hal kedewasaan ini menjadi target utama dalam Kekristenan kita ? karena dengan kedewasaan seseorang layak untuk menjadi seorang mempelai. Selain itu, orang yang sudah dewasa memiliki cara pandang atau pola pikir yang lebih luas dan sanggup mengerjakan pekerjaan yang besar.
Untuk itu, mari kita lihat beberapa contoh pribadi yang memiliki pertumbuhan yang baik sampai mencapai kedewasaan, yaitu kehidupan Tuhan Yesus dan Yohanes pembaptis. Dalam Injil Lukas 1:80 dikatakan, “Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.” Sedangkan tentang Yesus Kristus, dalam Injil Lukas 2:52 dikatakan, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”
Yesus dan Yohanes Pembaptis sama-sama dewasa dalam jasmani, tetapi mereka juga dewasa dalam rohani. Memang kedewasaan jasmani tidak ada hubungannya dengan kedewasaan rohani. Tubuh mereka makin kuat, tetapi juga diimbangi dengan kekuatan rohani. Perlu kita sadari bahwa kita hidup dalam 2 dimensi, yaitu dimensi roh dan jasmani. Yohanes Pembaptis tinggal di padang gurun yang tidak ada apa-apanya. Demikian juga dengan Yesus yang masuk ke padang gurun dan dicobai oleh iblis. Kita teringat juga dengan peristiwa bangsa Israel yang dipimpin Tuhan keluar dari tanah Mesir dan masuk ke padang gurun. Gunanya adalah agar bangsa Israel tidak hanya dewasa dalam jasmani saja, tetapi juga dalam rohani. Kalau sudah dewasa rohani, maka di padang gurun sekalipun, Tuhan sanggup memberkati.

Pada waktu Yesus di padang gurun, Yesus mendapatkan pelayanan malaikat. Dengan rohani yang kuat, Yesus bisa mengusir iblis (1 Yohanes 5:18). Demikian juga, dengan 40 hari di padang gurun, Yesus sudah mencapai kedewasaan rohani, walalupun pada usia 12 tahun sudah ada tanda dari kedewasaan rohani-Nya. Yesus bertambah besar hikmat-Nya dan besar-Nya. Tentang hikmat baca: 1 Korintus 2:6-11. Kita percaya bahwa Roh Allah ada dalam diri kita. Roh Allah akan berfungsi kalau kita sudah mengalami kedewasaan rohani. 1 Korintus 2:16 berkata, “Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.” Kalau kita masuk padang gurun, maka roh kita menjadi matang, dan pikiran Allah itu, yaitu Roh Allah yang ada dalam diri kita akan muncul.

Pada umumnya seseorang yang bertambah dewasa jasmani dan dibekali dengan pendidikan yang tinggi, biasanya memiliki kecenderungan pertumbuhan jasmaninya yang lebih dominan dibanding dengan pertumbuhan rohaninya. Dan apabila kita membaca dalam Roma 8:5-8, maka kita akan temukan nilai kebenaran. Dimana seseorang yang roh-nya tidak mengalami akil balig, maka sudah menjadi ketentuan bahwa hidupnya berseteru dengan Allah. Untuk itu, usahakan diri kita untuk tidak menjadi seteru Allah yaitu dengan cara hidup dipimpin oleh Roh, dengan konsekwensi kita berani menanggalkan keinginan daging kita, karena keinginan daging bertentangan dengan keinginan Roh. Roma 8:9-10 berkata, ”Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.  Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”  Kalau seseorang bukan milik Kristus, maka tidak mungkin warisan itu diberikan. Tetapi kita adalah milik Kristus dan hak waris-Nya diberikan pada kita semua.
Tetapi ingat perlu ada penguasaan diri. Kerohanian yang dewasa justru membawa Yohanes Pembapits memiliki wibawa ilahi. Dia muncul  menuntun banyak orang Israel untuk dibawa kepada keselamatan. Yohanes Pembaptis mengerti bahwa kerohaniannya lebih penting dari pada jasmaninya. Ketika kita mendahulukan Kerajaan Sorga, maka apa yang tidak sempat kita pikirkan itu yang Tuhan sediakan bagi kita. Pemeliharaan Allah kepada orang yang mendahulukan Kerajaan Allah benar-benar terjadi. Yang jelas orang yang hidup berkenan kepada-Nya dan mengalami kedewasaan rohani akan mengalami pelayanan malaikat. Bukan hanya itu, kita juga harus disucikan oleh darah Yesus melalui perjamuan kudus.

Orang yang mengalami kedewasaan rohani akan mengalami mujizat dalam dirinya. Untuk itu tinggalkan segala perbuatan duniawi. Yakub gambaran manusia rohani dan Esau gambaran manusia jasmani. Esau dibenci Tuhan karena menganggap ringan tentang hak kesulungan. Untuk itu jangan sampai kita dibenci Tuhan. Yesus dikasihi Allah dan juga dikasihi oleh manusia. Hal ini memberikan tuntunan dalam kehidupan kita, bahwa kita harus menjadi berkat bagi banyak orang, karena ini merupakan kekuatan hubungan antara kita dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang dewasa rohani pasti semakin dicintai Tuhan. Baca: Roma 9:13-14. Orang yang sudah mengalami akil balig, maka dia akan semakin dipercaya Tuhan. Oleh sebab itu tebuslah waktu yang telah kita buang dengan sia-sia dan pergunakan kesempatan yang Tuhan berikan guna mencapai kedewasaan penuh. Amin.
Sumber: http://iix.bethanygraha.org

13 April 2013

Karakter Umat Tuhan Yang Terbentuk

Karakter Umat Tuhan Yang Terbentuk
Written by Multimedia Graha Bethany   
Saturday, 13 April 2013 13:11
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
3 Yohanes 1:2-4 “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.
Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran.
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Abraham dipanggil dari sanak keluarganya yang adalah penyembah berhala. Sebelum dipanggil, gaya hidup keluarga Abraham waktu itu adalah bercampur baur, yaitu ada yang menyembah berhala. Tetapi mungkin ada di antara keluarganya yang mengenal Tuhan yang benar oleh karena keturunan mereka berasal dari Henokh. Setidaknya mereka memiliki hati nurani untuk mengenal Tuhan yang benar. Tetapi gaya hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Untuk itu Abraham dipanggil Tuhan. (Baca Kejadian 12). Ini dilakukan Tuhan agar Abraham bisa berjalan dengan Tuhan dan Tuhan bisa membentuk hidup Abraham.

Dari Abraham kita dapat belajar tentang iman-nya. Iman merupakan pemberian Tuhan. Setiap dia berhenti di suatu tempat, Abraham membuat mezbah bagi Tuhan dan mengorbankan korban bakaran. Ada darah yang tercurah dan ada pengampunan dosa. Abraham mulai mengerti bahwa korban itu mengampuni dosanya. Demikian juga kita yang hidup di Perjanjian Baru diselamatkan oleh darah Yesus.
Abraham juga dalam hidupnya pernah tersandung kepada dosa dan ia meminta pengampunan. Abraham ada usaha untuk hidup dalam kehendak Tuhan.
Dari Abraham muncul Ishak. Ishak menabur dan menuai dan ia sangat diberkati sambil menjaga budi pekertinya dengan baik. Dari Ishak muncul Yakub. Waktu Yakub keluar dari rumahnya dengan membawa tongkat saja. Yakub kembali ke rumahnya dengan dua pasukan. Waktu itu Yakub memiliki 12 anak yang akhirnya menjadi 12 suku Israel. Lalu muncul Yusuf yang juga akhirnya sukses di tanah Mesir. Waktu itu juga, oleh karena bencana kelaparan, bangsa Israel pergi ke Mesir dan diam di tanah Gosen. Di Gosen, bangsa Israel ditekan oleh bangsa Mesir. Muncul Musa yang datang untuk membebaskan mereka. Di Gosen, mau tidak mau mereka bercampur dengan kebudayaan setempat. Kalau kita simpulkan peristiwa di atas, maka kita dapatkan bahwa kisah Abraham berbicara tentang “iman,” Ishak berbicara tentang pengharapan, dan Yakub berbicara tentang kasih.

Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Di tengah perjalanan turun 10 hukum Allah. Sepuluh hukum Allah ini berbicara lebih jelas lagi. Mereka yang melanggar hukum Allah akan dihukum mati, sedangkan yang taat 10 hukum Allah menjadi sangat diberkati. Jadi, karakter dari orang Israel dibentuk oleh Hukum Taurat. Ini dilakukan karena Allah ingin memiliki umat yang punya karakter khusus yang tidak melanggar 10 hukum Allah. Saat ini, biarlah 10 hukum Allah muncul dalam hidup kita, yang hidup dalam Perjanjian Baru ini, oleh karena kuasa Roh Kudus.
Bangsa Israel dapat memiliki Kanaan kalau mereka memiliki karakter sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan berjanji kepada Abraham dengan sumpah bahwa keturunannya akan diberkati asalkan mereka taat kepada kehendak Tuhan. Ulangan 28:1 berkata, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.” Baca juga: Ulangan 28:2-14

Saat ini Tuhan memberikan pengertian bahwa jika seseorang hanya diperlengkapi dengan iman, pengharapan dan kasih saja belumlah cukup. Memang mereka memiliki hidup dan kerohanian yang bertambah baik, tetapi terkadang kita lupa tentang karakter. Karakter yang buruk dapat menghalangi berkat Tuhan yang akan diberikan kepada kita tanpa batas.
Memang sampai hari ini bangsa Israel tetap memegang Hukum Taurat, padahal tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya. Untuk itu Tuhan datang untuk menyucikan dengan darah-Nya melalui Yesus Kristus. Sekarang oleh anugerah Allah dosa kita disucikan oleh darah Yesus.

Setelah diampuni, Roh Kudus akan menuntun kita di dalam kebenaran. 3 Yohanes 1:2-4 berkata, “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” Tuhan menghendaki agar kita memiliki karakter baik dan memiliki gaya hidup khusus dan tidak seperti dunia ini. 10 Hukum Allah merupakan hikmat Allah yang harus menjadi gaya hidup umat Tuhan.  Hidup dalam kebenaran inilah yang disebut hikmat. Kalau seseorang berhikmat, ia akan mengenal Allah-nya. Kalau seseorang hidup dalam kebenaran, maka akan dibuat berhasil oleh Tuhan.
Ayub adalah seorang yang takut akan Tuhan tetapi seijin Tuhan ia dicobai iblis.
Ayub sangat menderita. Maksud Allah adalah agar Ayub keluar dari ujian tersebut dan memiliki karakter seperti emas. Ayub menjadi sangat diberkati oleh karena dia lulus dari ujian. Untuk itu jangan terpancing untuk bertindak sesuatu yang melanggar firman Allah. Ayub dalam hal ini tetap menyambut istrinya yang walaupun sempat mengolok-olok dia. Ayub memiliki karakter seperti emas. Baca: Ayub 28:12-20. Hikmat yang dimiliki Ayub sangat berharga.

Amsal 8:19-21 berkata, “Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan. Aku berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan, supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka.” Karakter yang baik akan berbuah baik juga. Berkat itu akan sampai kepada keturunan kita. Kalau kita mendapatkan hikmat ini, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita.

Baca Keluaran 20:1-17 tentang 10 Hukum Taurat. Dijelaskan bahwa Allah menghendaki agar umat Tuhan memiliki gaya hidup yang lain dari dunia ini.  Orang yang memiliki karakter seperti mutiara dan emas pasti akan diberkati Tuhan. 10 hukum Allah membentuk suatu karakter mutiara dan emas. Dengan karakter ini juga, kita dapat menjadi garam dan terang dunia ini. Percaya bahwa Roh Kudus akan menolong kita.  Amin

Sumber: http://iix.bethanygraha.org

8 April 2013

Rindu Kediaman Allah

Rindu Kediaman Allah
Written by Multimedia Graha Bethany   
Friday, 05 April 2013 10:29
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku   banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ  untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali   dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada,  kamupun berada.”
(Yohanes 14:1-3)
Setelah Yesus bangkit dari kematian, maka Dia menampakkan diri kepada murid-muridNya selama empat puluh hari. Dan setelah itu Ia naik ke sorga, dengan tujuan menyediakan tempat bagi kita, seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 14:2b-3, ”Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Pada kalimat terakhir dalam ayat ini telah diungkapkan kerinduan Tuhan atas hidup kita yaitu supaya kita tinggal bersama-sama dimana Dia berada. Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, “bagaimana kerinduan hati kita terhadap Tuhan ?”

Demikianlah nyanyian dan mazmur dari bani Korah yang telah menyanyikan puji-pujian yang indah bagi Tuhan untuk mengungkapkan rasa rindu terhadap kediaman Allah. Kerinduan tersebut diekspresiakan seperti jiwa yang serasa hancur karena merindukan pelataran Tuhan. Selain itu hati yang senantiasa bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Di dalam tempat kediaman Allah tidak ada air mata, sakit penyakit ataupun penderitaan. Karena yang ada hanyalah sukacita yang besar.
Kalau kita saat ini merindukan tempat kediaman Allah, maka suatu saat kerajaan Allah akan digenapi atau dinyatakan oleh Allah di bumi ini. Seperti doa yang telah diajarakan oleh Tuhan Yesus, “datanglah kerajaanMu di bumi seperti di surga.” Namun sebaliknya, apabila kita tidak mempunyai kerinduan, cita-cita atau visi akan kediaman Allah (sorga) maka iman kita cepat lemah. Dan perlu kita ingat bahwa pada saat hari pentakosta terjadi maka Allah tinggal dalam kehidupan manusia (kita). Oleh sebab itu carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33).

Saudara, apabila kita kembali melihat dalam kejadian 28:10-20, yaitu kisah tentang perjalanan hidup Yakub maka kita akan menemukan sesuatu hal yang luar biasa. Dimana setelah Yakub menipu kakaknya maka ia dikejar-kejar oleh kakaknya yaitu Esau. Yakub hendak dibunuh oleh kakaknya. Sehingga pada akhirnya kehidupan Yakub tidak ada tujuan dan harapan karena ia mengalami intimidasi dari kakaknya yaitu hendak dibunuh. Meskipun Yakub lari dari hadapan kakaknya, tetapi hal itu tidak menolong dia atau melepaskan dia dari persoalan karena hidupnya penuh dengan ketakutan. Yakub berjalan tanpa arah dan tujuan. Namun suatu ketika dia sampai pada satu tempat, dan ia hendak istirahat, ia mendapat kasih karunia Allah, yaitu ia mendapatkan mimpi. Dimana ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan antara surga dengan bumi, dan pada tangga itu tampak malaikat turun dan naik dari surga ke bumi dan sebaliknya; selain itu ia juga melihat pintu surga terbuka. Mimpi daripada Yakub ini telah digenapi dengan diberikan Putra Allah yang tunggal yaitu Yesus Kristus sebagai penghubung surga dengan bumi. Melalui pengorbananNya di atas kayu salib sehingga kita yang percaya dapat menikmati fasilitas tersebut. Dan pernyataan itu telah disampaikan kepada Natanael sebelum Yesus disalibkan, katanya : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Allah” (Yohanes 1:51). Dan dalam Kisah Para Rasul  4:12 telah ditegaskan bahwa ”keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Jadi kerinduan terhadap kediaman Allah itu tidak hanya pada saat kita meninggalkan dunia ini, tetapi pada saat kita masih di bumipun Tuhan rindu setiap kita memiliki hasrat yang kuat terhadap kediaman Allah. Sebab kalau kita teliti kembali bahwa iman Yakub menjadi kuat dan fokus hidupnya hanya tertuju kepada Tuhan setelah ia melihat surga terlebih dahulu. Dan dari situlah maka janji berkat kepada Abraham dilimpahkan atas Yakub karena Yakub juga merupakan keturunan daripada Abraham. Penyertaan Tuhan kepada Abraham telah disertai dengan sumpah, dan seluruh keturunannya akan diberkati secara berlimpah-limpah sekaligus menjadi bangsa yang besar, seperti yang tertulis dalam Ibrani 6:13-14, “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya : ”Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.”

Mengenai kerinduan terhadap kediaman Allah, kita juga dapat belajar dari kehidupan rasul Paulus. Dimana setelah ia mendapat pengelihatan dan penyataan maka ia memiliki kerinduan yang kuat untuk senantiasa tinggal dalam kediaman Allah. Dan dalam penglihatannya telah disampaikan bahwa ia telah diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga, sehingga ia tidak tahu entah di dalam tubuh maupun di luar tubuh. Yang jelas ia telah menerima pengalaman yang luar biasa. Sehingga dari pengalamannya inilah ia begitu gigih dalam melakukan tugasnya sebagai rasul untuk memberitakan kebenaran Injil. Segala macam tantangan maupun persoalan; baik besar maupun kecil yang menghimpitnya tidak membuat dia lemah tetapi semakin berapi-api. Oleh sebab itu firman Tuhan menasehatkan supaya kita senantiasa mencari wajah Tuhan selama Ia berkenan ditemui. Janganlah hendaknya kerajinan kita kendor, biarlah roh kita menyala-nyala dalam melayani Tuhan, sebab upah yang besar telah disediakan bagi kita yang sungguh-sungguh setia dan mengasihi Dia. Dalam kitab Wahyu 5:11 telah ditunjukkan kekayaan Tuhan, seperti kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan dan puji-pujian. Dan kita juga akan menerima bagian di dalamnya.

Saudara, apabila kerinduan dan hasrat kita akan kediaman Allah sudah mulai luntur atau bahkan hilang, maka selama ada kesempatan kita pergunakan sebaik-baiknya, jangan sampai kita sia-siakan kesempatan yang ada untuk kembali memiliki hasrat atau kerinduan akan kediaman Allah, karena tidak ada kesempatan yang kedua kalinya untuk hal ini. Itulah sebabnya dikatakan, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Amin.

Sumber: http://iix.bethanygraha.org

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification