23 Februari 2013

Gereja Yang Betumbuh

Gereja Yang Betumbuh
Written by Multimedia Graha Bethany   
Friday, 22 February 2013 16:50

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra


Sejalan dengan majunya jaman, maka gereja harus mengalami pertumbuhan. Dan pertumbuhan gereja ini tidak hanya kwantitas tetapi juga kwalitas. Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh gereja yang bertumbuh, yaitu :

1. Koinonia  (Kumpulan orang-orang yang mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah).

Kita telah dipanggil dan dipilih oleh Allah untuk dijadikan umat yang kudus dan melakukan perkara-perkara yang besar. Oleh sebab itu kita harus mengikatkan diri dalam persekutuan dengan Allah, karena Allah akan mengikatkan diriNya dengan kita pula, supaya keberhasilan itu menjadi nyata (I Korintus 1:2)

Pada saat kita mengikatkan diri dengan Kristus, maka kita akan diangkat dalam satu level berkat tertentu. Apa yang dimaksudkan mengikatkan diri dengan Tuhan ? Yang dimaksud mengikatkan diri dengan Tuhan adalah memiliki hubungan yang intim dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Contohnya : Ketika orang Israel dibawa keluar dari Mesir dan melawati padang pasir, maka mau atau tidak mau mereka harus mengikatkan diri dengan Allah karena di padang pasir tidak ada makanan dan minuman seperti di Mesir. Perjalanan dari Mesir menuju Kanaan sebenarnya tidak lebih dari 20 hari, tetapi mengapa sampai 40 tahun lamanya sehingga dalam perjalanan banyak yang mati ?.

Dibalik perjalanan yang cukup panjang ini Tuhan mempunyai maksud yang indah, yaitu supaya orang Israel saat dipimpin keluar dari tanah Mesir menuju ke Kanaan mendapat pelajaran dari Tuhan untuk bisa memelihara perasaan, pikiran dan kehendak Tuhan.
Demikianlah kehidupan kita, mungkin saat ini kita sedang bergantung pada lingkungan kita, misalnya bergantung pada kekayaan orang tua, bergantung pada pekerjaan yang bagus atau bergantung dengan hal yang lainnya. Tetapi perlu kita ingat bahwa kita adalah orang-orang yang eklesia yaitu orang-orang yang dipanggil dari dunia ini untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan Yesus Kristus. Karena kalau kita menggunakan pikiran, kehendak dan perasaan kita sendiri maka kita akan tersesat di padang pasir. Karena dunia ini sebenarnya adalah padang pasir.

Bentuk nyata pimpinan Tuhan terhadap bangsa Israel yaitu Musa telah diperintahkan Tuhan untuk membuat Tabernakel (Bilangan 9:15). Dan kemah suci pada zaman Musa hanya ada satu, sedangkan umat yang mengikuti Musa kurang lebih tiga juta orang. Pada saat mereka beribadah, para imam-imam melayani mulai dari mezbah bakaran, kolam basuhan, pelita emas dan roti pertunjukan. Mereka masuk ke halaman dan mereka percaya akan penebusan dosa dalam wujud kolam basuhan (baptisan). Lalu mereka masuk dalam ruang suci, yang pertama  terdapat mezbah dupa (perasaan Tuhan), lalu meja roti pertunjukan (pikiran Kristus), lalu pelita emas (kehendak Tuhan). Kemudian imam itu menghadap tirai yang tebal sampai mendengar firman Tuhan dari ruang maha suci. Setelah para imam itu mendengar firman Tuhan maka mereka keluar dan menyampaikannya kepada jemaat.

Demikianlah dalam kehidupan kita, kalau kita benar-benar mengikatkan diri dengan Tuhan dan mau dipimpin oleh Tuhan, maka kita akan sampai pada tujuan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu hidup dalam kesuksesan, kebahagian dan kedamaian. Oleh sebab itu jangan sekali-kali mendukakan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri. Karena pada waktu kita menghormati Roh Kudus maka urapan Allah itu akan turun atas kita. Tetapi acapkali kita sering menyinggung perasaanNya dengan cara membawa tubuh ini ke dalam dosa. Lalu bagaimana kita bisa melayani Tuhan kalau kita tidak bisa memahami perasaanNya. Jadi orang yang bisa memahami dan melayani perasaan Tuhan dapat disamakan seperti hubungan antara suami dan istri (Efesus 5:32).

2. Diakonia (Kumpulan orang-orang yang saling melayani).

Galatia 6:10 ”Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”
Pelayanan diakonia itu sebenarnya membuat kita berbahagia. Memang, kalau kita menilai secara fisik maka perbuatan kita tidak untung karena sebagian apa yang kita miliki harus berkurang. Tetapi akhir dari perbuatan yang kita lakukan akan menghasilkan buah yang luar biasa. Sebab, apa yang kita tabur tidak akan sia-sia tetapi akan menjadi berlipatkaliganda. Misalnya : seseorang mengalami sakit parah dan membutuhkan pertolongan, lalu kita mau berkorban. Maka segala perbuatan kita akan diperhitungkan oleh Tuhan (Ulangan 1:10). Allah tidak mau dipiutangi. Pelayanan diakonia di masa sekarang ini sangat langka, karena dalam kondisi yang sulit ini manusia cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri atau sekelompok orang saja. Untuk itu, selama masih ada kesempatan marilah kita berlomba untuk berbuat baik terhadap saudara kita yang lemah, karena hal itu merupakan wujud sebagian dalam mengasihi sesama.

3. Marturia (Memberitakan Injil, atau menyampaikan kabar baik).


Gereja dikatakan exist apabila semua jemaatnya menyampaikan kabar baik kepada semua umat manusia, terutama bagi mereka yang belum diselamatkan. Memberitakan Injil bukanlah tugas pendeta saja, tetapi tugas semua orang yang percaya dan yang sudah diselamatkan oleh Tuhan. Marturia (memberitakan Injil) bersifat wajib (Matius 28:19-20). Tetapi janganlah takut, karena apabila kita memberitakan Injil maka kita akan
diperlengkapi dengan kuasa Tuhan, karena di dalam diri kita ada sesuatu yang ilahi (Markus 16:15-17). Tetapi sebaliknya apabila kita tidak memenuhi kewajiban itu maka kita harus memberi pertanggungan jawab kepada Tuhan atas nyawa orang yang belum diselamatkan (Yehezkhiel 33:6). Bukankah kita dipanggil dan dipilih tidak sekedar untuk diselamatkan tetapi kita ditetapkan sebagai pembawa kabar baik yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita, “bagaimana aku dapat memberitakan Injil sedangkan akau tidak pandai bicara ?”. Saudara, memberitakan Injil itu bukan soal pandai atau tidak pandai bicara, melainkan mau atau tidak untuk memberitakannya. Pemberitaan Injil yang konkrit adalah melalui sikap hidup kita. Apakah sikap hidup kita sudah mencerminkan pribadi Yesus. Apabila kita mengaku percaya kepada Yesus maka hidup kita wajib seperti Yesus hidup. Apa artinya kita pandai berbicara tetapi hidup kita tidak mencerminkan sebagai anak-anak Tuhan ?. Perlu kita ketahui bahwa hidup kita adalah suratan yang terbuka; setiap orang dapat membaca kebenaran melalui sikap hidup kita sehari-hari. Amin.

Sumber: http://iix.bethanygraha.org/

16 Februari 2013

Hidup Dalam Lindungan Tuhan

Hidup Dalam Lindungan Tuhan
Written by Multimedia Graha Bethany   
Thursday, 14 February 2013 14:42
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Ayat Bacaan : Mazmur 91:1-16


Yang mendasari Raja Daud menulis dalam pasal ini yaitu karena ia memperhatikan kehidupan Musa bersama orang Israel, tatkala Musa membawa orang Israel keluar dari Mesir, dan dia meneliti bagaimana Allah melindungi bangsa Israel. Dan perlindungan ini berawal daripada Abraham; dimana Allah pernah berjanji yang disertai dengan sumpah untuk melindungi Abraham dan seluruh keturunannya, termasuk diri kita yang merupakan keturunan dari Abraham, sebab kita telah percaya pada Kristus. Oleh karena itu perlindungan itu mutlak diberikan kepada umat pilihanNya, sebagaimana Allah melindungi Abraham, Ishak dan Yakub, sampai kepada Daud. Dan Daud mempunyai bukti bahwa Allah sungguh melindunginya. Dan pada akhirnya Daud menulis Mazmur 91 ini yang merupakan bukti dari perlindungan Allah.

Dalam kitab Mazmur pasal 91 terbagi menjadi 3 bagian :


Yang pertama ayat 1-2,  merupakan bukti perlindungan Allah, dan Daud percaya akan hal ini.

Dalam ayat tersebut terdapat kata-kata “yang kupercayai”, kata ini menunjukkan adanya suatu iman dalam diri Daud. Saudara, Mazmur 91 ini telah di tulis 1010 tahun  sebelum Masehi. Dan kita percaya bahwa firman Allah tidak berubah dari dulu sekarang dan selamanya. Kalau raja Daud pada waktu itu dilindungi oleh Allah karena percaya. Dan apabila kita ingin mendapatkan perlindungan Allah maka kita harus memiliki iman, karena iman merupakan dasar/fondasi dalam kehidupan kita, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Oleh karena itu janganlah kita kuatir dan takut dalam menjalani hidup ini, sebab segala yang kita harapkan telah terbukti walaupun kita belum melihat. Sebab oleh imanlah akan ada kesaksian.

Yang Kedua ayat 3-13, Karena Daud berharap maka Allah membuktikan perlindunganNya.

Perlu kita perhatikan bahwa pada bagian yang kedua ini yaitu pada ayat 7-13 telah terdapat kata-kata “akan”. Yang mana kata ini menunjukkan suatu pernyatakan daripada Tuhan yang akan menjadi suatu kenyataan dalam kehidupan orang-orang percaya yang memiliki suatu pengharapan. Pernyataan Allah ini sungguh luar biasa, sebab pernyataan ini benar-benar mutlak untuk melindungi kita semua. Memang, dalam bagian kedua ini bersifat “akan” (sesuatu yang belum terjadi), oleh karena itu hidup kita harus penuh dengan pengharapan. Dan apabila kita melihat perjalanan hidup Abraham bersama Tuhan, maka kita akan melihat adanya suatu nilai hidup yang dimuati dengan pengharapan. Dimana janji Tuhan yang ditujukan kepada Abraham untuk menjadi bangsa yang besar tidak langsung didapatkan oleh Abraham, karena Allah ingin melihat seberapa besar pengharapan Abraham terhadap Tuhan, sampai pada akhirnya Abraham mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kepadanya yang disertai dengan sumpah (Ibrani 6:13-20).

Lalu bagaimana dengan kita, apakah kita masih punya pengharapan pada Tuhan ? atau kita sudah mulai bergantung pada kekayaan, jabatan, kedudukan atau hal yang lain ? Maka ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah lalai akan janjinya, sebab firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia. Oleh sebab itu tetaplah berharap kepada Tuhan, sebab pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita yang dilabuhkan sampai dibelakang tabir. Mungkin timbul pertanyaan, apa yang ada di belakang tabir ? yang ada dibelakang tabir adalah Allah, sebab dibelakang tabir adalah ruang maha suci; dan tabir ini merupakan hadirat Allah. Saudara, kalau kita percaya akan hal ini maka iman dan pengharapan kita akan menjangkau hadirat Tuhan. Dan perlu kita renungkan bahwa kita tidak sekedar menjangkau atau menyentuh hati Tuhan, tetapi kita percaya dan berharap bahwa Allah akan melindungi kita. Jadi, bukan percaya saja, tetapi kita juga harus memiliki pengharapan, sebab Allah membuat pernyataan ini disertai dengan sumpah.

Dan dalam ayat berikutnya, yaitu Mazmur 91:3 terdapat kata “jerat penangkap burung”. Lalu, apakah wujud/kejadian yang dialami oleh orang yang terkena jerat burung. Contoh yang sederhana yaitu : suatu ketika ada seseorang yang mengendari motor melintasi rel kereta api namun tiba-tiba mesin kendaraan mati persis ditengah-tengah rel kereta, sedangkan kereta api sedang lewat. Orang tersebut berusaha untuk menyalakan mesin tetapi tidak nyala juga, sedangkan kereta semakin dekat. Sebenarnya ia dapat terhindar dari maut yaitu dengan jalan meninggalkan motornya, tetapi hal itu tidak pernah terpikirkan, sehingga maut merenggut nyawanya. Inilah merupakan gambaran daripada orang yang terkana jerat penangkap burung (kuasa kegelapan). Dan dalam ayat berikutnya dikatakan : Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,  atau terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang (Mazmur 91:5-6).  Kemudian ayat selanjutnya dikatakan : Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.
Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik (Mazmur 91:7-8). Yang dimaksud ayat ini yaitu : bahwa segala sesuatu (malapetaka) boleh terjadi namun sekali-kali tidak akan menimpa kita termasuk keluarga kita, sebab TUHAN ialah tempat perlindungan kita, dan Yang Mahatinggi telah menjadi tempat perteduhan kita (Mazmur 91:9-10), dan malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya untuk menjaga di segala jalan kita dan malaikat-malaikatNya akan menatang kita di atas tangannya, supaya kaki kita jangan terantuk kepada batu (Mazmur 91:11-12). Bahkan Singa dan ular tedung akan kita langkahi, kita  akan menginjak anak singa dan ular naga (Mazmur 91:13). Dan dalam ayat 13 ini berbicara tentang spirit. Perlu kita ketahui pula bahwa roh jahat tidak bisa kita lawan dengan fisik; tetapi syukur bahwa dunia roh yang digambarkan sebagai ular tedung, singa dan ular naga yang mengganggu kita akan dikalahkan, sebab malaikat Tuhan telah diperintahkan untuk melindungi kita. Saudara, spirit harus dilawan dengan spirit, dan kita percaya siapa yang ada dipihak Allah pasti akan menang.

Yang Ketiga ayat 14-16, Dengan pengalaman itu hati Daud melekat dan mengasihi Allah, karena ia benar-benar membuktikan perlindungan Allah dinyatakan dalam hidupnya.

Bagian yang ketiga terdapat adanya suatu muatan kasih; dimana pada Mazmur 91:14 dikatakan “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.” Arti kata melekat ini adalah : suatu muatan kasih. Bahkan dalam Kidung Agung digambarkan bahwa kekuatan kasih/cinta itu seperti maut. “. . . . . . karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!” (Kidung Agung 8:6). Oleh karena itu, marilah kita mengasihi Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi, sebab selain kita mendapat perlindungan dari Tuhan, kita akan mendapat jawaban dari Tuhan atas segala sesuatu yang kita harapkan dan Diapun menyertai kita dalam kesesakan, bahkan ia meluputkan kita dari malapetaka serta memuliakan kita. Dan disamping itu Allah akan memberikan panjang umur yang disertai dengan kebahagian (Mazmur 91:15-16). Amin.

Sumber: http://iix.bethanygraha.org

10 Februari 2013

Hidup Dalam Kehendak Allah

Hidup Dalam Kehendak Allah
Written by Multimedia Graha Bethany   
Friday, 08 February 2013 15:11
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

Di dalam Injil Yohanes, khususnya dalam pasal 3, ayat ke-16 merupakan penggenapan daripada nubuatan yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya sejak + 750 tahun sebelum Yesus lahir. Dan untuk mengetahui nubuatan yang telah disampaikan tersebut, marilah kita membaca di dalam Kitab Yesaya 53:1-12 yang merupakan perenungan bagi kita saat ini.
Dari ayat perenungan ini akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1. Kehendak Allah

Yesaya 53:10 “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.”
Saudara, penderitaan sampai pada kematian yang dialami oleh Yesus merupakan kehendak Allah, yang tidak bisa dibatalkan oleh siapapun. Dan kehendak Allah ini merupakan perwujudan kasih Allah terhadap isi dunia ini, seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:16. Cinta Allah terhadap manusia mengandung muatan kasih dan bersangkutan dengan maut, seperti yang tertulis dalam kidung agung.
Dimana telah dikatakan bahwa cinta kuat bagaikan maut. Sebagai contoh : Ada banyak orang karena putus cinta maka maut menjemputnya. Ada orang yang menjalani kasih sayang mengalami maut juga. Tuhan mengasihi dunia ini, supaya barangsiapa yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Tetapi sayangnya, banyak orang menolak dan melecehkan Tuhan Yesus; tetapi puji syukur, dari jutaan orang kita telah dipilihNya. Dimana sejak kita diselamatkan, bertobat, dibaptiskan dan lahir baru, maka kita mulai berjalan dengan iman. Sebelumnya kita hanya sekedar hidup secara positif thinking (pikiran positif) dan bukan berjalan dengan iman. Dan oleh karena kita percaya Yesus maka kita memiliki pengharapan yang pasti. Berapa banyak pengharapan seseorang itu sifatnya hanya mudah-mudahan. Tetapi dalam nama Yesus bukan mudah-mudahan tetapi pasti diselamatkan. Saudara, kalau di dunia beranggapan bahwa kasih itu merupakan suatu filsafat yang tidak pernah tercapai, tetapi kasih Allah dalam Yesus sudah dibuktikan melalui pengorbananNya di atas kalvari. Kehendak Tuhan itu mutlak, dan kita berada dalamnya.

Pada waktu Adam dan Hawa menjual dirinya kepada iblis maka iblis berkuasa melalui manusia, dan perbuatan iblis dijabarkan melalui kehidupan manusia, sehingga sifat manusia seperti iblis. Pada jaman Musa Allah menurunkan sepuluh hukum Allah untuk menahan perbuatan iblis melalui manusia. Tetapi  tidak ada manusia yang sanggup melakukan sepuluh hukum Allah, sehingga pada akhirnya manusia tetap jatuh dalam dosa. Namun puji Tuhan, oleh karena Yesus Kristus yang lahir dari firman dan Roh telah menjadi juru selamat kita, dan setiap orang percaya dalam namaNya akan dimeteraikan dengan Roh Allah. Dan sejak itu kita dipimpin oleh Roh Kudus menuju masa depan yang baik.
Saudara, setiap orang senantiasa merindukan kehendak Allah terjadi dalam kehidupannya, tetapi kadang-kadang mereka tidak sadar bahwa mereka sendirilah yang membatalkannya melalui pemberontakan terhadap pimpinan Roh Kudus. Dan orang yang memberontak atau menghujat Roh Kudus tidak ada pengampunan baik di dunia ini maupun di akherat. Oleh karena itu relakanlah diri kita dipimpin oleh Roh Kudus.  Sebab ketika Tuhan Yesus ada di dunia ini untuk menggenapkan firman Allah, Ia taat sepenuhnya.

2. Ketaatan

Ayat 7-8 “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya . . . . .”
Dari ayat diatas telah tampak bahwa Yesus banyak mengalami penderitaan secara fisik, tetapi secara roh kuasa Allah sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan Yesus. Segala penderitaan yang dialami oleh Yesus telah didasari oleh ketaatanNya, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Secara fisik dalam diri Yesus tidak ada hawa nafsunya. Tatkala Ia dicobai iblis yaitu mengenai keserakahan, kesombongan, maupun hawa nafsuNya, Dia tetap berada dalam posisi tidak mendukakan Roh Kudus, sehingga m
unculnya kuasa Allah dalam diri Yesus sangat sempurna. Hal ini nyata melalui tidak ada satu penyakit yang tidak Ia sembuhkan, dan segala mujizat terjadi melalui kehidupan Yesus.
Saudara, apabila kita membaca surat Roma 8:6-11 maka kita tidak bisa lagi hidup dalam kedagingan. Sebab orang yang hidup dalam kedagingan tidak akan berkenan kepada Allah. Roh Allah yang ada dalam kehidupan kita akan muncul jikalau kita taat. Tujuan dari keselamatan ini tidak sekedar kita sehat atau selamat di dunia ini, tetapi kita memiliki misi yaitu menjadi berkat bagi banyak orang, misalnya : seandainya kita kaya di dunia ini, maka kita pergunakan kekayaan kita untuk memuliakan Tuhan, dan apabila kita kuat maka kekuatan ini kita untuk melayani Dia, dan segala sesuatu yang merupakan berkat dari Tuhan hendaknya kita pergunakan untuk memuliakan Tuhan.

Saudara, apabila kita ingin hidup seperti Yesus hidup, maka kita harus berani menghadapi banyak penderitaan secara jasmani. Dan kata menderita disini bukan berarti miskin, sengsara atau sakit-sakitan. Tetapi kata menderita disini dikarenakan melakukan kehendak Allah dan melawan dosa. Sebab dalam I Petrus 4:1-2 dikatakan : “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, -- karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa --, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

3. Pelaksana Kehendak Allah

Pada akhir jaman akan dibedakan antara kambing dan domba atau ilalang dengan gandum, maksudnya yaitu bahwa setiap manusia akan dibedakan mana yang disebut umat Tuhan atau bukan, orang yang beribadah atau yang tidak beribadah, dengan kata lain masuk masa penampian. Memang, kadang-kadang setiap orang tidak pernah merasa bahwa dirinya beribadah atau tidak, tetapi yang menjadi cerminan adalah hidupnya sesuai firman Tuhan atau tidak. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk menjadi pelaku firman Tuhan dan bukan sebagai pendengar atau penonton saja. Sebab orang yang mau melaksanakan kehendak Tuhanlah yang berhak mendapatkan hak waris kerajaan sorga (Roma 8:17). Amin. 
Sumber: http://iix.bethanygraha.org/

2 Februari 2013

Investasi Sorgawi

Investasi Sorgawi
Written by Multimedia Graha Bethany   
Thursday, 31 January 2013 17:25
Pdt. Abraham Alex Tanuseputra

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. . . . . . . ."

(Matius 6:19-24)
Apabila kita berbicara mengenai ekonomi dunia, maka tidak akan luput dari hal-hal yang berkaitan dengan mamon, dan mamon itu memang perlu tetapi itu bukan hal yang utama bagi umat Tuhan, sebab yang utama adalah mengabdi kepada Allah yang merupakan satu-satunya tumpuhan dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana kita hidup dalam dunia ini tetap diberkati oleh Tuhan yaitu dalam hal ekonomi (mamon), tetapi kita tetap mengabdi kepada Tuhan ? Kita harus masuk dalam siklus tabur-tuai yang berorientasi pada kekekalan.

Ketika tahun 1965, saya (Pdt. Abraham Alex T.) mulai bertobat, dan saat itu saya masih berdomisili di kota Mojokerto. Sejak awal pertobatan, saya mulai menanam dari hasil usaha saya yaitu jual beli mobil. Dan modal yang saya gunakan untuk usaha tersebut merupakan pemberian orang tua saya (gambaran iman yaitu sesuatu yang tidak ada menjadi ada). Singkat cerita; apa yang telah saya tanam telah tumbuh 14 cabang gereja. Kemudian, suatu saat saya harus meninggalkan kota Mojokerto untuk pindah ke Surabaya, dan 14 cabang yang sudah bertumbuh itu saya serahkan kepada hamba-hamba Tuhan yang ada di pedesaan.
Setelah di Surabaya, saya menuai Bethany Manyar, kemudian saya menabur lagi, sampai berdiri kurang lebih delapan ratus cabang di seluruh Indonesia, kemudian saya menuai Bethany Nginden. Tetapi saya tidak berhenti disitu saja, karena saya harus tetap menabur yaitu untuk terlaksananya Menara Doa Jakarta. Saudara, dari kesaksian ini kita dapat melihat bagaimana urutan hukum ekonomi kerajaan Allah, dan hukum menabur ini tidak ada batasan umur (sampai akhir hidup kita), sebab esensi daripada menabur ini adalah kita sedang investasi dalam kerajaan sorga.

Memang dalam hal menabur itu tidak gampang, sebab kadang-kadang kita harus sedikit menderita dan mencucurkan air mata. Namun perlu kita ingat bahwa penderitaan yang kita alami tidak akan sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan nanti, karena firman Tuhan juga berkata : “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).” Bahkan akibat dari menabur ini telah digambarkan seperti orang yang sedang bermimpi, dimana mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai, seperti yang tertulis dalam Mazmur 126:1-3 “ . .  Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa : TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini! TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.”

Ada beberapa hal yang harus kita mengerti dalam hal menabur :

1.    Benih Yang Ditanam Harus Mati.

Dalam pengertian bahwa segala sesuatu yang sudah kita tabur baik untuk orang yang membutuhkan pertolongan maupun untuk pekerjaan Tuhan tidak kita ingat-ingat lagi (diungkit-ungkit), sebab kalau tidak demikian maka apa yang kita tabur akan sia-sia, seperti yang terulis dalam Yohanes 12:24 “ . . . Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Atau seperti yang tertulis dalam I Korintus 15:36.

2. Tetap Melakukannya Dengan Sungguh-sungguh.

Kata sungguh-sungguh disini mengandung unsur ketekunan, dimana tidak ada sesuatu hal yang dapat menghalangi kita untuk berhenti menabur, karena hal ini merupakan siklus daripada kehidupan, seperti yang tertulis dalam II Timotius 2:6-7 : “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.”

3. Jenis Benih Yang Kita Tabur

Segala sesuatu yang kita tabur harus berdampak pada sesuatu yang kekal karena apa yang ditabur, itulah yang akan dituai, seperti yang tertulis dalam Galatia 6:7-8 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

4. Ukuran panen

Besar atau kecilnya hasil yang kita terima tergantung seberapa besar benih yang kita tanam serta kerelaan hati saat menabur, sebab firman Tuhan berkata : “. . . Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (II Korintus 9:6-8).

5. Menabur Di Tanah Yang Baik

Saat kita menabur, kita tidak boleh sembarangan menabur, tetapi biarlah kita menabur pada tanah yang subur (Matius 13:8).

6. Sabar Menanti Musim Menuai

Saudara kita harus sabar, sebab saat kita menanam benih, maka kita harus menyirami, kemudian diberi pupuk sampai tumbuh sebuah tunas, tetapi ketika tumbuh tunas, maka kita tidak boleh menarik-narik supaya cepat tinggi dan berbuah, karena segala sesuatu ada waktunya. Demikianlah firman Tuhan berkata : “ . . . seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. (Markus 4:26-29)

7. Menjaga Kekristenan

Ulangan 28:1 "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan `mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.”
Saudara, jika seseorang menabur di tempat yang baik, maka apa yang ditabur akan tumbuh semakin hari semakin bagus, tetapi apabila suatu saat orang tersebut tidak menjaga tanaman yang sudah bertumbuh itu, maka apa yang mereka tanam menjadi busuk/rusak yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Misalnya : pada awalnya seseorang menabur dengan tekun, sehingga diberkati Tuhan secara luar biasa, lalu ia mulai coba-coba tidak menjaga tanamannya (Kekristenan) dengan cara berselingkuh atau tindakan lain yang bertentangan dengan kehendak Tuhan maka tanaman itu akan rusak (busuk).

8. Menerima Hasil Tuaian

Pasti akan menuai secara luar biasa oleh karena turut campur tangan Tuhan (Kejadian 26:12)

9. Berdoa senantiasa

Kita senantiasa bergantung kepada Tuhan karena yang memberi pertumbuhan atas segala yang kita tanam adalah Tuhan (I Korintus 3:6-7).
AMIN

Sumber: http://iix.bethanygraha.org

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification