15 Juni 2014

Dia Tidak Pernah Terlelap

Pdt. Abraham Alex Tanuseputra
Mazmur 37:5, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”
Semua orang tentunnya pernah berkeluh kesah atas keadaan yang ada. Hal ini perlu kita sadari bahwa dunia ini penuh dengan onak dan duri, sehingga setiap manusia tidak terlepas dari berbagai pergumulan; baik besar maupun kecil. Dan persoalan itu datang tidak memandang bulu; baik orang kaya, orang miskin, tua maupun muda, orang percaya maupun orang belum percaya, yang pasti persoalan itu selalu ada.
Walaupun kita sama-sama harus menghadapi pergumulan dalam hidup, namun yang membedakan antara orang percaya dengan orang yang belum percaya yaitu ketika mereka menyelesaikan suatu persoalan. Kalau orang diluar Tuhan, mereka menyelesaikan dengan kekuatannya sendiri atau mengandalkan kuasa kegelapan, tetapi anak-anak Tuhan segala sesuatu diserahkan kepada Tuhan, seperti yang tertulis dalam Mazmur 37:5, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” Oleh karena itu kita perlu menyadari bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dan kali ini kita akan belajar tentang nyanyian pengajaran dari bani korah ketika berada dalam pergumulan, khususnya yang terdapat dalam Mazmur 44:24 “Terjagalah ! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan ?Bangunlah ! Janganlah membuang kami terus-menerus !”

Nyanyian pengajaran dari bani Korah ini seolah-olah menyatakan bahwa Tuhan itu bisa tertidur sehingga harus dibangunkan, namun sebenarnya bukan demikian, sebab dalam Mazmur 121:4 telah dikatakan : ”Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.”  Jadi sesungguhnya pernyataan ini memberikan suatu isyarat bahwa kita harus senantiasa berseru (berdoa) kepada Tuhan. Dan makna yang lebih dalam lagi adalah kita harus senantiasa membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Sedangkan untuk dapat melihat contoh yang lebih nyata lagi adalah kisah tentang angin ribut yang diredahkan. Seperti yang tertulis dalam Matius 8:23-27 “..”. Pada perikop ini telah diceritakan bahwa saat Yesus naik perahu bersama murid-muridNya sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sedangkan Yesus tertidur diburitan. Lalu murid-muridNya segera membangunkanNya.
Walaupun pada cerita ini ada kata tidur, tetapi bukan berarti Yesus terlelap dalam tidur, karena walaupun fisikNya tidur tetapi hatiNya tidak pernah tertidur. Saat itu Yesus tidak langsung bangun untuk menghardik topan tersebut, tetapi Ia menantikan reaksi daripada murid-muridNya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat rindu murid-muridNya membangun suatu hubungan atau komunikasi dengan Dia. Demikianlah kerinduan hati Tuhan terhadap kita yaitu kita harus selalu membangun hubungan dengan Tuhan, supaya doa menjadi suatu gaya hidup orang-orang yang percaya pada Kristus.
Dan selanjutnya dari kedua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Kitab Mazmur dan Injil Matius telah memberikan pengajaran yaitu ketika kita sedang diterpa badai persoalan biarlah kita “membangunkan” Dia. Janganlah panik atau mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, sebab apabila kita mengandalkan kekuatan kita sendiri maka kita akan terkutuk (Yeremia 17:5). Dan perlu kita ketahui pula bahwa Allah tidak pernah membuang kita terus menerus asalkan kita berserah sepenuhnya kepada Tuhan, sebab dalam Mazmur  55:23 dikatakan : ”Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”
Saudara, selain kita yang “membangunkan” Tuhan, Diapun juga rindu untuk membangunkan kita. Dalam pengertian bahwa Dia sangat rindu bersekutu dengan kita. Seperti halnya kisah cinta yang tertulis dalam Kidung Agung 5:2-8. Kisah yang terdapat dalam Kidung Agung sangatlah indah. Dimana ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Dan saat itu sang pria (Soleman) ingin sekali bertemu dengan kekasihnya (Sulamit). Namun sayang, Sulamit enggan untuk menemui Soleman karena ia sudah berada di pembaringan dan siap untuk tidur.
Sehingga Soleman terus menerus mengetok pintu rumah Sulamit dengan harapan Sulamit mau membukakan pintu dan Soleman bisa bertemu dengannya. Dan pada akhirnya Soleman meninggalkannya karena Sulamit tidak mau membukakannya. Peristiwa ini sungguh mengingatkan kita pada Kitab Wahyu 3:20, dimana disana dikatakan bahwa Yesus mengetok pintu hati kita dengan harapan supaya kita membukakannya dan Dia dapat masuk untuk berfellowship (bersekutu) dengan kita. Tetapi kenyataannya, kerapkali kita tetap menutup pintu hati kita dan enggan membukanya karena kita dalam posisi comfort zone (zona nyaman), sehingga kita tidak ada fellowship dengan Tuhan.

Saudara, kisah antara Soleman dan Sulamit ini juga terjadi dalam kehidupan saya (Pdt. Alex). Dimana terjaga dari tidur pada waktu malam. Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Namun pada akhirnya, saya mulai mengerti bahwa Tuhan sedang membangunkan saya dan Dia merindukan saya untuk tetap terjaga, supaya Dia dapat bercakap-cakap dengan saya. Bahkan sampai tidak terasa kalau saya telah bercakap-cakap dengan Tuhan cukup lama (01.00 – 04.00 WIB). Tuhan sangat ingin bergaul dengan kita. Dan apa yang dikatakan pada kidung agung juga terjadi pada waktu Yesus bersama murid-muridNya naik perahu. Walaupun Dia tidur tetapi hatinya bangun.

Oleh karena itu, apakah yang membuat hati kita gentar dalam menghadapi kehidupan ini; walaupun seribu rebah di sisi kiri dan sepuluh ribu rebah di sisi kanan kita, maka percayalah bahwa Yesus tetap beserta dengan kita. Mazmur Daud mengungkapkan tentang bagaimana pertolongan Tuhan terhadap orang-orang pilihanNya, seperti yang tertulis dalam Mazmur 3:6 “Aku membaringkan diri, lalu tidur, aku bangun, sebab Tuhan menopang aku” Hal ini membuktikan bahwa Allah adalah tempat perlindungan kita dan kubuh pertahanan kita. Dan dalam ayat tersebut ada kata “bangun”, yang menunjukkan bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita yang sungguh-sungguh berharap kepadaNya.
Bahkan dalam Mazmur 127:1-2 telah ditegaskan bahwa “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya, jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu yang bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah, sebab Ia memberikannnya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur.”  Hal ini bukan berarti mengajar kita untuk menjadi pemalas, tetapi menunjukkan bahwa Allah sangat rindu untuk turut bekerja dalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan. Dan pada ayat lain juga dikatakan “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Dan sebagai akhir kata, biarlah kita segera membangunkanNya, dan janganlah kita enggan saat dibangunkan olehNya. Amin. Sumber: http://www.bethanygraha.org

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cna certification